BoXeR

HalloW anak2 Boxer.Billy Slaku Bisek Membuat blog untuk teman2

Friday, November 10, 2006

PErMaiNan CInTa DI KamaR ManDi

Halo kenalkan, aku Panji Anugerah (nama samaran). Seorang pria berusia 37 tahun, menikah, dengan seorang wanita yang sangat cantik dan molek. Aku dikaruniai Tuhan 2 orang anak yang lucu-lucu. Rumah tanggaku bahagia dan makmur, walapun kami tidak hidup berlimpah materi.
Boleh dibilang sejak SMA aku adalah pria idaman wanita. Bukan karena fisikku yang atletis ini saja, tapi juga karena kemampuanku yang hebat (tanpa bermaksud sombong) dalam bidang olahraga (basket dan voli, serta bulu tangkis), seni (aku mahir piano dan seruling) dan juga pelajaran (aku menduduki peringkat ketiga sebagai pelajar terbaik di SMAku). Bedanya waktu di SMA dahulu, aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti seks dan wanita, karena saat itu konsenterasiku lebih terfokus pada masalah akademisku.

Bakat playboyku mulai muncul setelah aku menjadi seorang kepala rumah tangga. Aku mulai menyadari daya tarikku sebagai seorang pria normal dan seorang pejantan tangguh. Sejak diangkat sebagai kabag bagian pemasaran inilah, pikiran-pikiran kotor mulai singgah di otakku. Apalagi aku juga hobi menonton film-film biru.

Wanita lain yang sempat hadir dihatiku adalah Maya. Dia adalah rekan kerjaku, sesama pegawai tapi dari jurusan berbeda, Accounting. Dia berasal dari Surakarta, tinggal di Bandung sudah lama. Kami sempat menjalin hubungan gelap setahun setelah aku menikah dengan Lilis, istriku. Hubungan kami tidak sampai melakukan hal-hal yang menjurus kepada aktivitas seksual. Hubungan kami hanya berlangsung selama 6 bulan, karena dia pindah ke lain kota dan dinikahkan dengan orang tuanya dengan pria pilihan mereka. Dasar nasib!!! Niatku berpoligami hancur sudah. Padahal aku sudah berniat menjadikannya istri keduaku, walau istri pertamaku suka atau tidak. Karena frustasi, untuk beberapa bulan hidupku terasa hampa. Untungnya sikapku ini tidak bertahan lama, karena di tahun yang sama aku berkenalan dengan seorang teman yang mengajariku gaya hidup sehat, bodybuilding.

Saat itu, sekitar tahun 1998, yang namanya olahraga fitness, bukanlah suatu trend seperti sekarang. Peminatnya masih sedikit. Gym-gympun masih jarang. Sejujurnya aku malas berbodybuilding seperti yang dilakukan temanku itu. Apalagi saat itu sedang panas-panasnya isu politik dan kerusuhan sosial. Belum lagi adanya krismon yang benar-benar merusak perekonomian Indonesia. Untungnya perusahaan tempatku bekerja cukup kuat bertahan badai akibat krismon, hingga aku tidak turut diPHK. Namun temanku yang sangat baik itu terus memotivasiku, hingga tak sampai 3 bulan, aku yang tadinya hanya seorang pria berpostur biasa-biasa saja-walaupun aku bertubuh atletis, menjadi seorang atlet bodybuilding baru yang cukup berprestasi di kejuaraan-kejuaraan daerah maupun nasional. Hebatnya lagi kantorku dan seluruh keluargaku ikut mendukung semua aktivitasku itu. Kata mereka ”kantor kita punya Ade Rai baru, hingga kita tidak perlu satpam atau bodyguard baru” suatu anekdot yang sudah menjadi santapanku berhari-hari.

Semakin berlalunya waktu, aktivitas bodybuilderku kukurangi. Apalagi aku sudah diangkat menjadi kabag pemasaran sekarang, di mana keuntungan mulai berpihak pada perusahaan tempatku bekerja. Aku mulai bertambah sibuk sekarang. Namun untuk menjaga fisikku agar tetap bugar dan prima, aku tetap rutin basket, voli, dan bersepeda. Hanya 2 kali seminggu aku pergi ke tempat fitness. Hasilnya tubuhku tetap kelihatan atletis dan berotot, namun tidak sebagus ketika aku menjadi atlet bodybuilding dadakan.

Sewaktu aku menjadi atlet bodybuilding, banyak wanita melirikku. Beberapa di antaranya mengajakku berkencan. Tapi karena saat itu aku sedang asyik menekuni olahraga ini, tanggapan dan godaan mereka tidak kutanggapi. Salah satu yang suka menggodaku adalah Mia. Dia adalah puteri tetangga mertuaku. Baru saja lulus SMA, dan dia akan melanjutkannya ke sebuah PTn terkenal di kota Bandung. Gadis itu suka menggoda di setiap mimpiku dan bayangannya selalu menghiasi pikiranku saat aku menyetubuhi istriku. Kisahku dengan Mia akan kuceritakan lain waktu.

Seperti biasanya, aku bangun pagi. Pagi itu aku bangun pukul 04.30 pagi. Setelah cuci muka, aku mulai berganti pakaian. Aku akan melakukan olahraga pagi. Udara pagi yang sehat memang selalu memotivasiku untuk jogging keliling kompleks perumahanku. Dengan cuek aku memakai baju olahraga yang cukup ketat dan pas sekali ukurannya di tubuh machoku ini. Kemudian aku mengenakan celana boxer yang juga ikut mencetak pantatku yang seperti dipahat ini. Aku sengaja bersikap demikian demi mewujudkan impianku, menggoda Mia dengan keindahan tubuhku. Menurut kabar, dia juga suka jogging. Niatku bersenang-senang dengan Mia memang sudah lama kupendam. Namun selama ini gadis itu selalu membuatku gemas dan penasaran. Dia seperti layangan yang diterbangkan angin, didekati menjauh, dijauhi mendekat.

Tak berapa lama jogging, tubuhku pun sudah mulai keringatan. Peluh yang membasahi kaus olahragaku, membuat tubuh kokoh ini tercetak dengan jelas. Aku membayangkan Mia akan terangsang melihatku. Tetapi sialnya, pagi itu tidak ada tanda-tanda Mia sedang berjogging. Tidak kelihatan pula tetanggaku lainnya yang biasa berjogging bersama. Padahal aku sudah berjogging sekitar 30 menit. Saat itu aku baru sadar, aku bangun terlalu pagi. Padahal biasanya aku jogging jam 06.00 ke atas. Dengan perasaan kecewa aku balik ke rumah mertuaku. Dari depan rumah itu tampak sepi. Aku maklum, penghuninya masih tertidur lelap. Tadi pun saat aku bangun, tidak terdengar komentar istriku karena dia sedang terlelap tidur setelah semalaman dia menemani anakku bermain playstation. Saat aku berjalan ke arah dapur untuk minum, aku melihat ibu mertuaku yang seksi itu sedang mandi. Tampaknya dia sudah bangun ketika aku berjogging tadi.

Kamar mandi di rumah mertuaku memang bersebelah-sebelahan dengan dapurnya. Setiap kali anda ingin minum, anda harus melewati kamar mandi itu. Seperti disengaja, pintu kamar mandi itu dibiarkan sedikit terbuka, hingga aku bisa melihat bagian belakang tubuh molek mertuaku yang menggairahkan itu dengan jelas. Mertuaku walaupun usianya sudah kepala 4, tapi masih kelihatan seksi dan molek, karena dia sangat rajin merawat tubuhnya. Dia rajin senam, aerobik, body language, minum jamu, ikut diet sehat, sehingga tak heran tubuhnya tidak kalah dengan tubuh wanita muda usia 30-an.

Melihat pemandangan syur itu, kontan batangku mengeras. Batang besar, panjang, dan keras itu ingin merasakan lubang hangat yang nikmat, basah, dan lembab. Batang itu juga ingin diremas-remas, dikulum, dan memuncratkan pelurunya di lubang yang lebih sempit lagi. Sambil meremas-remas batangku yang sudah mulai tegak sempurna ini, kuperhatikan terus aktivitas mandi mertuaku itu. Akhirnya timbul niatku untuk menggaulinya. Setelah menimbang-nimbang untung atau ruginya, aku pun memutuskan nekat untuk ikut bergabung bersama ibu mertuaku, mandi bersama. Kupeluk dia dari belakang, sembari tanganku menggerayang liar di tubuh mulusnya. Meraba mulai dari leher sampai kemaluannya. Awalnya ibu mertuaku kaget, tetapi setelah tahu aku yang masuk, wajah cantiknya langsung tersenyum nakal.

”Panji, nakal kamu” katanya sambil balas memelukku. Dia berbalik, langsung mencium mulutku. Tak lama kami sudah berpagut, saling cium, raba, dan remas tubuh masing-masing. Dengan tergesa kubuka bajuku dibantu mertuaku hingga aku sudah bertelanjang bulat. Batangku pun mengacung tegang, besar, dan gagah.

Kami pun melakukan pemanasan sekitar 10 menit dengan permainan oral yang nikmat di batangku, sebelum kemaluannya kutusuk dengan batangku. Permainan birahi itu berlangsung seru. Aku menyetubuhinya dalam posisi doggy style. Aku merabai payudaranya yang kencang itu, meremas-remasnya, mempermainkan putingnya yang sudah mengeras. 30 menit berlalu, ibu mertuaku sudah sampai pada puncaknya sebanyak 2 kali. 1 kali dalam posisi doggy, 1 kali lagi dalam posisi berhadap-hadapan di dinding kamar mandi. Namun sayangnya, batangku masih saja mengeras. Aku panik karenanya. Aku khawatir jika batangku ini masih saja bangun sementara hari sudah mulai pagi. Aku khawatir kami akan dipergoki istriku. Rupanya mertuaku mengerti kepanikanku itu. Dia kembali mengoral batangku yang masih bugar dan perkasa ini, lalu dia berbisik mesra,

”Jangan khawatir panji sayang, waktunya masih lama” katanya nakal.
Aku bingung mendengar ucapannya, tapi kubiarkan aktivitasnya itu sambil terus mendesah-desah nikmat. Tiba-tiba ibu mertuaku menghentikan perbuatannya itu. Dia langsung berdiri. Melihat itu, aku pun protes,
”Lho, bu, aku khan belum keluar?” suaraku parau, penuh birahi.
”Sabar sayang, kita lanjut di kamarku saja yuk” katanya mesra.
Aku pun tambah bingung. ”Tapi khan ada bapak?” suaraku masih saja parau, karena birahi.

”Tenang saja, bapakmu itu sudah pergi tak lama setelah kamu jogging tadi, dia ada tugas ke Jawa” sahut ibu mertuaku sambil mengemasi pakaian olahragaku yang tercecer di kamar mandi dan kemudian menggandengku ke arah kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, aku disuruhnya telentang di ranjang, sementara dia mengelap sisa-sisa air, keringat, dan sabun di tubuhnya dengan handuk kering yang sudah ada di kamarnya. Lalu dia melakukan hal yang sama padaku. Setelah itu dia langsung saja mengambil posisi 69, mulai mengoral batangku kembali. Tak lama nafsuku pun bangkit kembali. Kali ini aku bertekad akan membuat mertuaku keluar sampai tiga kali. Aku memang khawatir hubunganku di pagi ini akan ketahuan istriku, tapi persetanlah...que sera-sera. Apapun yang akan terjadi terjadilah.

Aku pun balik menyerang ibu mertuaku. Mulut dan lidahku dengan ganas mempermainkan miliknya. Tanganku juga ikut aktif merabai, meremasi bibir kemaluan dan menusuki lubang anal ibu mertuaku. Kelentitnya yang sudah membengkak karena rangsangan seksual kujilati, dan keremasi dengan gemas. Kumainkan pula apa yang ada di sekitar daerah kemaluannya. Gabungan remasan jari, kobokan tangan di kemaluannya, dan serangan lidahku berhasil membuat mertuaku keluar lagi untuk yang ketiga kalinya. ”Aaaaahhhh.... panji sayang ....” jerit nikmat ibu mertuaku. Cairan birahi ibu mertua keluar deras dari lubang vaginanya. Langsung saja kuhisap dan kutelan habis hingga tidak ada yang tersisa.

Akupun tersenyum, lalu aku merubah posisiku. Tanpa memberikan kesempatan ibu mertuaku untuk beristirahat, kuarahkan batangku yang masih bugar dan perkasa ini ke arah vaginanya, lalu kusetubuhi dia dalam posisi misionaris. Kurasakan batangku menembus liang vagina seorang wanita kepala 4 yang sudah beranak tiga, tapi masih terasa kekenyalan dan kekesatannya. Tampaknya program jamu khusus organ tubuh wanita yang dia minum berhasil dengan baik. Miliknya masih terasa enak dan nikmat menggesek batangku saat keluar masuk.
Sambil menyetubuhi ibu mertuaku, aku mempermainkan buah dadanya yang besar dan kenyal itu, dengan mulut dan tanganku. Kuraba-raba, kuremas-remas, kujilat, kugigit, sampai payudara itu kemerah-merahan. Puas bermain payudara tanganku mempermainkan kelentitnya, sementara mulutku bergerilya di ketiaknya yang halus tanpa bulu, sementara tangan satunya masih mempermainkan payudaranya. Tangan ibu mertuaku yang bebas, meremas-remas rambutku, dan mencakar-cakar punggungku. Posisi nikmat ini kami lakukan selama bermenit-menit, hingga 45 menit kemudian ibu mertuaku mencapai orgasmenya yang keempat. Setelah itu dia meminta istirahat. Aku sebenarnya malas mengabulkan permintaannya itu, karena aku sedang tanggung, hampir mencapai posisi puncak. Namun akhirnya aku mengalah.

”Panji kamu hebat banget deh, kamu sanggup membuat ibu keluar sampai empat kali” puji ibu mertuaku.
”Aah ibu bisa saja deh” kataku merendah.
”Padahal kamu sudah jogging 45 menit, tapi kamu masih saja perkasa” lanjut pujiannya.
”Itukan sudah jadi kebiasaanku, bu” aku berkata yang sebenarnya.
”Kamu benar-benar lelaki perkasa, Lilis beruntung mendapatkanmu” puji mertuaku lagi.

Lalu kami bercakap-cakap seperti biasanya. Sambil bercakap-cakap, tangan ibu mertuaku nakal bergerilya di sekujur tubuhku. Terakhir dia kembali mempermainkan batangku yang sudah mengerut ukurannya.

Aku bangkit, lalu beranjak dari tempat tidur. Ibu mertuaku memandangku heran, dikiranya aku akan keluar dari kamarnya dan mengakhiri permainan cinta kami. Tapi kutenangkan dia sambil berkata, ”Sebentar bu, aku akan mengecek keadaan dulu”. Aku memang khawatir, aku takut istri dan anakku bangun. Dengan cepat kukenakan kembali pakaian olahragaku dan keluar kamar mertuaku. Ternyata dugaanku salah. Hari memang sudah beranjak pagi, sekitar jam 6.15 menit, tapi istri dan anakku belum juga bangun. Penasaran kuhampiri kamarku dan kamar tempat anakku tidur. Ternyata baik anak maupun istriku masih tertidur lelap. Aku lega melihatnya. Sepertinya permainan playstation semalam, berhasil membuat mereka kolaps. Aku mendatangi jam weker di kamar keduanya, lalu kustel ke angka 9 pagi.

Aku menatap wajah istriku yang tertidur penuh kedamaian, sambil berkata dalam hati, ”Tidurlah yang lama sayang, aku belum selesai menikmati tubuh ibumu” lalu mengecup pipinya. Setelah itu, aku kembali ke kamar mandi, mencuci tubuhku, lalu balik lagi ke kamar mertuaku. Kami terlibat kembali dalam persetubuhan nikmat lagi. Dalam persetubuhan terakhir ini, aku dan ibu mertuaku sama-sama meraih orgasme kami bersama dalam posisi doggy anal. Sesudahnya aku balik ke kamar istriku, setelah membersihkan diri di kamar mandi untuk yang terakhir kali, dan kemudian mengenakan baju tidurku kembali.

Begitulah cerita seksku dengan Ibu mertuaku di suatu pagi hari yang indah. Tidak ada Mia, ada Arini, mertuaku yang molek dan menggairahkan.

Monday, October 30, 2006

pemarkosaan mahasiswi kembar

Sepasang kembar Selly dan Selvy (19 tahun) adalah satu bunga di fakultas arsitektur di universitas *******. Dari segi fisik keduanya sama cantiknya, mempunyai tubuh ideal dengan tinggi 165cm, berat 49 kg, dan buah dada 36A, rambut keduanya sepundak dengan wajah imut, kalau jeli mereka bisa dibedakan dari tahi lalat kecil di leher sampingnya, kalau ada berarti itu Selvy, kalau tidak ya sebaliknya, selain itu bentuk wajah Selly juga sedikit lebih panjang dari kembarannya. Dilihat dari sifat, Selvy cenderung lebih terbuka dan periang daripada Selly yang harus dipancing dulu baru bisa akrab, Selly orangnya mandiri, serius dan keibuan, sementara Selvy lebih manja dan gaul. Kalau ke kampus seringkali mereka memakai baju yang sama, sehingga terkadang memancing perhatian orang, apalagi kalau baju mereka seksi, orang yang melihat akan kagum bagaikan melihat malaikat kembar turun ke bumi. Dari laki-laki yang mengejar mereka yang beruntung mendapatkan Selly adalah Fredy, seorang eksekutif muda yang bekerja di bank, sedangkan Selvy juga baru jadian belum lama ini dengan Hendra, teman sekampusnya dari fakultas teknik industri. Fredy dan Hendra memang beruntung, namun ada yang jauh lebih beruntung dari mereka. Kejadiannya bermula ketika masa UTS, saat itu si kembar mengikuti ujian terpisah karena jadwal ujian mereka yang kebetulan sama bentrok dengan salah satu ujian lainnya. Mereka harus datang pagi-pagi lebih awal sebelum ujian yang bersangkutan berlangsung dan mereka ditempatkan Bu Yeni dari bagian TU di sebuah kelas. “Baiklah, ibu percaya kalian jujur kalau ibu tinggalkan, kalau sudah selesai nanti kalian ke TU dulu untuk isi daftar hadir, mengerti ?” tanya Bu Yeni setelah membagikan soal ujian dan lembar jawab. Ketika itu Imron sedang lewat dekat kelas itu sehingga Bu Yeni memanggilnya dan menanyakan apakah sedang tidak ada kerjaan sehingga bisa membantu mengawasi. Imron mengiyakan karena memang dia lagi nganggur, malah merasa senang dia bisa mengawasi si kembar yang termasuk salah satu targetnya. Imron bersandar di pinggir pintu mengawasi kedua gadis itu, dia juga mengamat-amati tubuh keduanya dengan kagum, matanya menatap kagum ke betis keduanya yang tertutup rok hitam selutut dan atasnya memakai kemeja putih lengan pendek, pakaian yang biasa dipakai dimasa-masa ujian. Imron memang sudah lama ingin menikmati tubuh si kembar itu, tapi belum ada kesempatan yang baik sampai saat itu terlintas sebuah akal bulus di benaknya. Setengah jam kemudian Imron berkata pada mereka: “Aduh, Bapak kebelet nih mau ke belakang sebentar aja, disini sepi banget lagi ga ada yang bisa gantiin, Non berdua harus jujur yah, kalian bisa pegang kepercayaan kan ?” Keduanya hanya mengangguk dan Imron pun buru-buru keluar meninggalkan si kembar di ruang itu. “Ci-ci…susah banget, bisa ngga ?” panggil Selvy dari belakang dengan setengah berbisik. Selly menggeleng dengan wajah bingung karena memang mata kuliah itu termasuk rumit dan ditakuti. “Nomer tiga lu udah belum. Liat dong dikit, gua lupa rumus nih !” Selly balik bertanya. Setelah tengok kiri-kanan dan merasa aman Selvy buru-buru menyerahkan lembar jawabnya pada kembarannya itu dan menyuruhnya bergerak-cepat. Dengan hati berdebar-debar dan terburu-buru Selly menyalin bagian-bagian penting dari jawaban yang diberikan saudaranya. Namun tepat ketika dia hendak mengembalikan lembar jawab pada Selvy, keduanya dikejutkan oleh kehadiran Imron yang mendadak di ambang pintu. “Astaghfirullah, Non…saya benar-benar nggak nyangka Non berdua bisa melakukan ini !” Imron pura-pura kaget. Si kembar langsung terdiam, matanya memancarkan perasaan bersalah dengan wajah tertunduk lesu. “Ma-maaf Pak, saya yang salah, saya…saya yang pertama minta contekan !” Selly mengaku salah sambil membela saudaranya. “Tapi kenapa Non…siapa nih ?” Imron melihat nama di lembar jawaban Selvy “Non Selvy juga ngasih liat jawabannya, kan harusnya ga boleh ya kan !” Imron berkata pelan tapi tegas sehingga membuat wajah keduanya makin pucat. “Maaf Non, demi tata tertib, saya terpaksa harus melaporkan Non berdua” sambungnya. “Jangan…jangan Pak !” sergah keduanya bersamaan dengan wajah memelas, mata Selvy bahkan sudah lembab berkaca-kaca. Mata kuliah itu termasuk penting dan termasuk prasyarat untuk mata kuliah berikutnya sehingga berat bagi mereka untuk tidak lulus apalagi dengan cara seperti itu. “Wah-wah…ada masalah apa disini Pak Imron kok sepertinya serius nih !” tiba-tiba terdengar suara dari pintu. “Ini nih, Pak saya juga bingung, cantik-cantik gini kok nyontek loh” kata Imron geleng-geleng kepala “Duh anak jaman sekarang emang susah yah !” Selly menjelaskan permasalahannya dan mengaku salah, tapi dia tetap minta keringanan, setidaknya jangan sampai saudaranya ikut kena hukuman. Pak Dahlan, kepala jurusan arsitektur yang tak bermoral itu mengangguk-angguk mendengar penjelasan Selly. “Hmmm…kalau begitu baiklah, kalian habis ini masih ada ujian lagi ?” tanya pria itu yang dijawab mereka dengan anggukan “Nah, sekarang kalian kerjakan saja dulu ujian ini, tapi nanti sebelum pulang temui saya di kantor saya untuk membicarakannya, ok ?” Untuk sementara si kembar bisa berlega hati, namun mereka sudah tidak konsentrasi lagi mengerjakan ujian itu juga ujian berikutnya karena dalam hati mereka berkecamuk seribu satu pikiran apa yang bakal terjadi nanti dan sanksi apa yang bakal menunggu mereka. Ujian terakhir hari itu pun akhirnya selesai jam dua siang, kini saatnya si kembar menemui kepala jurusan itu di kantornya untuk membicarakan masalah tadi. Selly mengetuk pintu…dua menit…tapi tidak ada jawaban, tirai ruang itu tertutup. “Ga ada orang kali yah ?” kata Selvy. “Tau deh…kita tunggu aja…” Baru saja Selly berkata begitu, tiba-tiba pintu dibuka oleh seorang gadis yang juga mengenakan setelan hitam-putih untuk ujian tapi dengan model yang lebih seksi, roknya lebih pendek daripada rok si kembar sehingga memamerkan sepasang paha jenjangnya, atasannya pun lebih ketat dan mencetak bentuk tubuhnya yang indah, belum lagi branya warna hitam sehingga menerawang jelas. Gadis itu menatap sekilas pada si kembar sambil keluar dari ruangan itu, senyuman misterius muncul di wajah indonya, entah mengartikan apa. Kalau dilihat lebih teliti di daerah antara bibir dan dagu gadis itu nampak sedikit noda cairan putih mirip susu kental yang tidak sempat terlihat oleh si kembar maupun dirinya sendiri. Si kembar hanya tahu gadis ini sebagai mahasiswi angkatan atas mereka yang bernama Fanny. Di ruang itu telah menunggu Pak Dahlan di balik meja kerjanya, wajah pria itu agak sayu seperti orang habis orgasme dan Imron, si penjaga kampus itu juga telah duduk di sofa sambil mengelap jarinya yang basah entah oleh cairan apa dengan tissue. “Ya, kalian berdua, ayo masuk, maaf menunggu, tadi ada yang bimbingan dulu, mari duduk disini !” Pak Dahlan keluar dari meja kerjanya dan menyuruh kedua gadis itu duduk di sofa. Pria itu menjelaskan kondisi mereka, bahwa perbuatan menyontek tadi hukumannya sudah jelas tidak diluluskan mata kuliah tersebut, padahal mata kuliah ini sangat penting “Saya bisa bantu kalian menutupi rahasia ini, malah kalau perlu saya bisa bantu mengkatrol nilai kalian melalui rekomendasi ke dosen yang bersangkutan, tapi…” “Tapi apa Pak ?” Selvy buru-buru menyela. “Hhmm…asal kalian banyak nurut ke Bapak, seperti…” Pak Dahlan meneruskan ucapannya dengan meletakkan tangan di paha Selvy yang duduk di dekatnya dan menggeser roknya. “Apa !” pekik Selvy terkejut sambil menepis tangan Pak Dahlan dari pahanya “Pak, ini pelecehan yah namanya, Bapak pikir kita ini perempuan apaan ?” Selly protes dengan suara tercekat karena tidak menyangka kepala jurusannya sebejat itu, hatinya tambah panas dan malu melihat si penjaga kampus itu cengengesan. “Hahaha…ayolah, kalian butuh nilai kan, ini dan itu tentu ada harganya dong, Bapak nggak memaksa, pilihannya terserah kalian aja” Pak Dahlan berkata dengan tenang. “Nggak Pak, kita lebih baik tidak lulus daripada dengan cara serendah itu, ayo Ci, kita pergi !” kata Selvy dengan kesal sambil meraih lengan saudaranya. “Oooh, sebentar-sebentar, sabar dulu dong” Pak Dahlan berusaha menahan mereka “sebenarnya apa yang kalian takutkan ? takut nggak perawan kan ? begini saja, Bapak nggak akan mengajak kalian berbuat itu deh, cukup kalian telanjang saja disini, bapak cuma mau liat tubuh kalian, ya setidaknya pegang-pegang dikit toh tidak ada pengaruhnya dengan keperawanan kan, lalu setelah itu Bapak jamin kalian pasti lulus, gimana, sama-sama untung kan ?” Si kembar tertegun mendengar tawaran itu, kalau hanya telanjang saja mungkin masih bersedia walaupun dengan amat terpaksa, dengan begitu skandal menyontek tadi dapat ditutupi tanpa harus mengorbankan keperawanan, dan seterusnya mereka kapok tidak akan menyontek lagi sehingga terjebak dalam posisi sulit seperti ini. Mereka saling tatap dengan penuh pertimbangan. “Baiklah Pak, tapi tolong saudara saya jangan, biar saya sendiri saja yang buka baju gimana ?” ucap Selly lirih. “Jangan saya saja !” Selvy menyela. “Diam ! ini salah gua tau, gua yang minta lembar jawab dari lu dan gua yang harus tanggung jawab !” Selly membentak adiknya sambil mengguncang bahunya. Mereka berdebat, masing-masing ingin berkorban demi melindungi saudaranya sampai Pak Dahlan menghentikan mereka. “Ok, ok sudah diam, mau kedengeran di luar apa ?” katanya agak keras “ya sudah satu dari kalian juga boleh, ya Selly kamu saja sebagai kakak yang maju !” perintahnya. “Jangan, jangan Ci, sudah kita relakan saja nggak lulus !” Selvy menahan lengan Selly dengan mata menitikkan air mata. Selly menyentak tangannya lalu memeluk adiknya serta mengelusi punggungnya. “Sudahlah, semua akan baik-baik saja, tenang-tenang” hiburnya. “Ayo udah dong main sinetronnya, kalau saya dah hilang minat tawarannya batal nih !” Pak Dahlan sepertinya sudah tidak sabar lagi. “Baik Pak, jadi Bapak jamin setelah puas melihat tubuh saya kita pasti lulus dan Bapak ga akan minta lebih ?” Selly memastikan dan bangkit berdiri. “Iya, Bapak jamin kalian akan lulus kalau perlu dengan nilai A sekalian dan kalau Bapak lepas kontrol kamu tinggal teriak aja, di bawah sana masih banyak orang yang bakal mendengar jeritan kamu kan ?” tegas pria tambun itu. “Eerr…disini Pak ? sekarang ?” tanyanya risih sambil melirikkan mata ke arah Imron. “Lha iya toh Sel, ga apa-apa kan Pak Imron disini, dia kan sebagai saksi tadi, jadi berhak menikmati juga kan, ayolah lagian kan hanya liat body kamu aja kan ?” Dengan berat hati, Selly pun akhirnya mulai melepaskan satu-satu kancing kemejanya, branya warna putih dengan aksen garis-garis pink pun terlihat. Selvy menunduk lesu menutup wajahnya sambil menangis, dia tidak sanggup menyaksikan saudaranya dipecundangi seperti itu.Rok hitamnya meluncur jatuh begitu dia melepaskan sabuk dan resletingnya. “Ayo belum selesai, terusin dong !” kata Pak Dahlan melihat Selly yang ragu-ragu melepas pakaian dalamnya. Tangan Selly gemetaran melepaskan kait branya serta menanggalkannya, mata kedua pria bejat itu melotot seperti mau copot melihat keindahan payudara Selly yang membusung tegak dengan puting kemerahan yang menggemaskan. Tentu saja Selly merasa risih dengan tatapan mata mereka sehingga tangannya otomatis menutupi kedua payudaranya. “Satu lagi, ayo Non, jangan tanggung-tanggung mau lulus ga ?” kata Imron dengan wajah mesum yang menjijikkan seolah dia hendak menelannya. Akhirnya Selly pun berhasil membuka penutup tubuh terakhirnya itu, celana dalam itu dia turunkan hingga lutut, lalu buru-buru berdiri tegak dan menggunakan tangan menutupi bagian-bagian terlarangnya. “Ck-ck-ck…benar-benar body yang sempurna, putih mulus tanpa cacat” Pak Dahlan bangkit berdiri dan menghampiri gadis itu “turunin tangannya dong, jangan malu-malu gitu yah” katanya sambil menyingkirkan tangan Selly yang melindungi bagian terlarangnya. Semakin pria itu mendekat semakin kencang pula jantung Selly berdebar, wajahnya memerah menahan malu sambil menggigit bibir bawah. “Bapak pegang dikit yah” pintanya sambil menaruh tangannya di payudaranya “Sshhh..” desisnya merasakan perasaan aneh karena belaian pada payudaranya, jari-jari gemuk pria itu juga memencet putingnya sehingga seperti bulu kuduknya berdiri semua. “Eengghh..!” desisnya lebih keras karena tangan Imron mendarat di pantatnya lalu merabanya. Tangan Pak Dahlan meraba semakin ke bawah hingga akhirnya menyentuh kemaluannya yang rapat dan dilapisi bulu-bulu tipis. Wajah pria itu juga makin mendekati wajahnya, baru saja bibirnya bersentuhan sedikit dengan bibir Selly, gadis itu memalingkan wajah dan menepis tangan kedua pria itu. “Sudah cukup ! saya tidak akan memberi lebih, sekarang bagaimana janji Bapak !” kata Selly sengit. Dia buru-buru menaikkan kembali celana dalamnya lalu roknya, secepat kilat bra yang di meja itu dia sambar dan kenakan kembali disusul kemeja putihnya. Pakaiannya masih tampak acak-acakan karena dia memakainya dengan terburu-buru, branya saja belum sempat dia kaitkan kembali. Kemudian dia menghampiri dan mendekap kembarannya yang meringuk di sofa dan menangis itu. “Tenang Vy, sudah beres, sudah beres !” katanya sambil mengelap air mata Selvy. “Selly, Selly” Pak Dahlan menepuk pundaknya sehingga membuatnya menoleh dengan tatapan kesal “kalian lulus, bapak janji itu hehehe” “Terima kasih Pak !” kata Selly dengan ketus. “Ga apa-apa, Bapak yang harusnya terima kasih karena sudah diberi kesempatan emas bersama kamu, dan juga…mengabadikannya !” ucapnya dengan nada datar. Kata terakhir itulah yang membuat si kembar yang sudah merasa lega terkejut bagai disambar petir. “Apa ?? diabadikan ? maksud Bapak…” suara Selly bergetar seperti melihat hantu. “Iya betul, kamu lihat deh webcam diatas komputer Bapak ini emang sudah sengaja diarahkan ke tempat kamu berdiri tadi dan komputer sudah merekam sejak kalian masuk” Pak Dahlan menjelaskan sambil berjalan ke balik meja kerjanya menyalakan tombol monitornya. Dia menyalakan ulang rekaman barusan dan memutar monitornya agar si kembar bisa melihat. Jantung mereka seakan berhenti berdetak, terutama Selly ketika melihat dirinya membuka bajunya hingga bugil lalu dipegang-pegang kedua pria tak bermoral itu, dia benar-benar tidak pernah berpikir akan jadi begini. “Bapak ngejebak kita, dasar biadab !” jerit Selly sangat marah padanya. “Gimana Sel, lihat tuh kamu berdiri di tempat yang tepat, wah-wah kalau ini tersebar gimana nih ?” “Hehehe, dijamin Non berdua bakal jadi selebritis deh !” timpal Imron yang daritadi cuma diam dan cengar-cengir. “Kalian-kalian mau apa sebenarnya bajingan !” Selvy memekik dengan wajah berurai air mata. “Simple saja, Bapak nggak minta banyak untuk menutupi skandal ini” kata Pak Dahlan tenang. “Dan Non ga usah nawarin duit deh, karena bukan itu yang kita mau” Imron menimpali. “Baiklah, biar saya saja…” Selly bangkit menawarkan diri. “Wah, maaf untuk yang satu ini saya khawatir bayarannya tidak cukup hanya kamu seorang Sel, sepertinya saudara kamu juga harus ikut” kata dosen bejat itu. “Tega-teganya Bapak begitu, Bapak memang bukan manusia !” maki Selvy yang hanya ditanggapi kedua pria itu dengan tertawa sinis. “Yah terima kasih atas ‘pujian’nya, sekarang pilihannya tergantung kalian berdua” pria itu menghampiri mereka setelah mematikan dulu komputernya. “Kalau kalian mau, ayo ke rumah saya sekarang, kebetulan saya sudah selesai kerja, kalau tidak mungkin kelulusan kalian saya akan pertimbangkan kembali dan yang paling penting rekaman tadi itu loh” kata Pak Dahlan sambil meletakkan tangannya di pundak Selly. Sungguh si kembar bagaikan makan buah simalakama hingga mereka tidak berdaya ketika digiring kedua hidung belang itu ke mobil Pak Dahlan yang diparkir di bawah gedung itu. “Ting !” lift yang membawa si kembar pun sampai di basement. Dengan langkah berat dan jantung berdebar mereka menuju ke Honda Civic hitam yang mengedipkan lampu dimnya. Mereka sengaja datang terpisah agar tidak menimbulkan kecurigaan berhubung hari masih siang. Pak Dahlan menyuruh Selly duduk di jok depan bersamanya, sedangkan Selvy di belakang bersama Imron. Selly membanting pantatnya ke jok dan menutup pintunya dengan keras, wajahnya tidak bisa menyembunyikan ekspresi marah, takut dan penyesalan yang bercampur baur. “Wah-wah, jangan galak-galak gitu dong Sel, kita kan mau senang-senang nih” kata Pak Dahlan menggerakkan tangan hendak membelai pipinya. “Eiit…jadi ga jadi nih ?” katanya ketika Selly menahan tangan itu. Akhirnya Selly pun pasrah membiarkan pria itu membelai pipi mulusnya. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati dan menatap jijik pria tambun yang makin kelihatan perutnya yang besar itu dalam balutan seatbelt. “Ternyata kalian masih bisa menentukan pilihan yang bijak yah, kita kirain kalian bakal kabur hehehe” celoteh Imron. Setelah mobil keluar dari areal kampus, Imron menggeser posisi duduknya sehingga lebih merapat dengan Selvy, tangan kirinya merangkul pundak gadis itu, tangan satunya mulai mengelusi lengannya. Selvy terdiam dan gemetar namun tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. “Jangan nangis terus dong Non, Bapak janji bakal muasin Non, malah mungkin Non yang ntar ketagihan” katanya setengah berbisik, hembusan nafasnya terasa di telinganya. Imron menyeka air mata yang membasahi pipi Selvy lalu mengalihkan wajah cantik itu berhadapan dengan wajah buruknya, dilumatnya bibirnya yang mungil itu dengan kasar, sementara tangan kanannya meremas-remas payudaranya. Selvy memejamkan mata dan meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tentu kalah dengan Imron, malah rontaan itu membuat Imron makin bernafsu mengerjainya. Ketika tangan Imron mulai merogoh masuk ke dalam roknya dan menyentuh bagian kewanitaannya, dia tersentak dan mulutnya sedikit membuka, saat itulah lidah Imron menerobos masuk ke mulutnya dan melumatnya habis-habisan, lidah Imron menyapu telak rongga mulutnya. Selvy merapatkan pahanya untuk mencegah tangan Imron masuk lebih jauh, namun dengan begitu Imron malah senang bisa sekalian membelai paha mulusnya sambil tangannya makin menuju ke selangkangan. Sekali lagi tubuhnya tersentak seperti kesetrum karena jari Imron telah berhasil mengelus belahan vaginanya dari luar celana dalamnya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya, hembusan AC mobil mulai terasa membelai pahanya karena roknya sudah terangkat. Kini tangan Imron menyusup lewat bagian atas celana dalamnya dan menyentuh permukaan kemaluan Selvy yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Sungguh tidak berdaya Selvy saat itu, ancaman akan tidak lulus ditambah lagi terjatuhnya kakaknya ke dalam jebakan membuatnya terpaksa pasrah. Dia berusaha tidak menangis terlalu keras dan memilukan karena dia tahu itu akan membuat beban pikiran kakak kembarnya semakin berat. Rontaan Selvy semakin lemah selain karena sudah pasrah, juga karena sentuhan-sentuhan erotis Imron pada kemaluannya dan percumbuannya. Nafas gadis itu semakin memburu dan wajahnya yang putih merona merah karena rangsangan-rangsangan gencar itu. Nasib Selly, kembarannya, di depan sana juga tidak beda jauh, sejak keluar dari kampus dan mobil berhenti di lampu merah pertama Pak Dahlan langsung menaruh tangannya di pahanya, perlahan-lahan tangannya naik menyingkap roknya, paha mulus itu dielus dan dipijatnya, tangan itu merambat terus hingga menyentuh pangkal pahanya. Selly menggigit bibir dan menarik nafas panjang merasakan jari-jari Pak Dahlan dari luar celana dalamnya. “Jangan cemberut gitu dong Sel, nikmatin aja, kan ga enak kalo sambil marah-marah” kata pria tambun itu karena Selly menatapnya dengan tajam. “Saya benar-benar ga nyangka yang seperti Bapak ini bisa jadi ketua jurusan, dunia memang sudah gila !” ucap Selly ketus. “Hehehe…ya itu sih hak kamu berkata begitu Sel, kan demokrasi namanya, tapi yang pasti mahasiswi lain yang pernah ‘bimbingan’ sama saya enjoy aja kok dan saya yakin kamu juga akan merasakan yang sama kok” jawab Pak Dahlan kalem, dia menyetir sambil tangan satunya tetap mengelus paha gadis itu, sesekali merayap ke atas memencet payudaranya. Terhenyak juga Selly mendengar kata-kata pria itu, berarti selain dia dan kembarannya pria ini juga pernah memangsa entah berapa banyak gadis-gadis lainnya. Selly bukannya tidak mendengar desahan tertahan di belakang sana, namun dia tidak sanggup menoleh ke belakang menyaksikan kembarannya sendiri dipecundangi, setiap desahan itu bagaikan irisan demi irisan yang melukai hatinya, namun dia tidak sanggup berbuat apapun untuk saudaranya itu, bahkan untuk dirinya sendiripun tidak bisa. Sebutir air mata tanpa sadar menetes di pipinya, padahal dia termasuk gadis yang tegar dan berhati baja. “Maafin gua Vy, gua ga bisa nolong lu kali ini” katanya dalam hati dengan hati terluka. Di lain pihak, elusan-elusan Pak Dahlan pun mau tidak mau mulai merangsangnya, jari yang bergerak nakal di bagian tengah celana dalamnya itu membuatnya basah di bawah sana tanpa bisa ditahannya, bagian tengah celana dalam itu sudah memperlihatkan noda basah karena sentuhan-sentuhan erotis si dosen bejat itu. Tubuhnya menggeliat menahan rasa geli di bawah sana, sesekali dia mengeluarkan suara mendesis tertahan. “Oohh…udah dong Pak, ntar keliatan orang !” katanya ketika mobil mereka tepat di sebuah bis kota ketika menunggu lampu merah. “Ga apa-apa kan kaca mobilnya ga bisa liat ke dalam” kata Pak Dahlan menyingkap kembali rok yang sempat diturunkan Selly. “Serigala tua bajingan !” maki Selly dalam hati, dia tetap merasa gelisah karena memang walaupun kedua sisi kaca mobil itu berlapis gelap, namun kaca depannya tidak sehingga masih mungkin orang dari bis itu melihat ke dalamnya. Benar saja, di bis itu ada seorang pria kebetulan melihat ke arahnya, pria itu berbicara pada temannya sehingga orang itu juga ikut melihatnya, pahanya mulusnya yang tersingkap dan sedang dielusi itu pun sempat menjadi tontonan gratis di tengah kemacetan. Untunglah lampu segera hijau sehingga mobil mereka pun melaju lagi, namun hal itu tentu membuatnya kesal dan malu, dia menatap tajam pada Pak Dahlan yang menyetir sambil senyum-senyum mesum. Tiba-tiba sebuah tangan menjulur dari belakang meraba dadanya. “Wah, masih belum puas sama jatahlu Ron, masih pegang-pegang yang punya gua nih ?” kata Pak Dahlan. “Hehehe…dikit aja Pak, cuma mau nyamain toket anak kembar, ternyata montoknya sama toh” jawab Imron yang kini sedang merasakan penisnya diemut Selvy, tangan kirinya meremasi payudara Selvy yang sudah terbuka. Tangan kanan Imron mulai membuka satu-persatu kancing kemeja Selly lalu menyusup ke dalamnya serta memegang payudaranya. “Shhh…!” desis Selly merasakan putingnya mengeras akibat dipilin-pilin Imron dan bawahnya makin basah karena dirogoh-rogoh Pak Dahlan. Betapapun kerasnya hati Selly, kali ini dia tidak sanggup berbuat apa-apa untuk melawan mereka dibawah ancaman nilai dan rekaman bugilnya. “Gimana Ron ? tokednya bagusan yang siapa ?” tanya Pak Dahlan. “Sama Pak, sama cantiknya sama montoknya, tapi ga tau gimana servisnya ntar” sahut Imron dari belakang “kalo yang sama saya ini nyepongnya masih amatiran, tapi ga apa-apa kalo diajar juga bisa, kayanya dia ketagihan nih malah, ayo Non yang bener isepnya, ati-ati jangan digigit yah” Di bawah paksaan, Selvy terpaksa mengoral penis hitam panjangnya Imron, itu adalah pertama kali baginya melakukan hal itu sehingga dia hanya bisa mengikuti instruksi Imron ditambah dari pengetahuan yang pernah dia lihat di film bokep. Dia berusaha tidak mencium bau keringat pada penis itu, saat dia sentuhkan lidah pada kepala penis itu, benda itu seperti bergetar dan makin membengkak, selanjutnya dia mengulum dan menjilati benda itu. Selly di depan juga semakin menggelinjang karena bagian-bagian sensitifnya digerayangi dua penjahat kelamin ini. Sekarang mobil sudah memasuki sebuah kompleks perumahan yang terletak agak jauh dari pusat kota, sehingga pemandangan disini masih relatif alami, masih hijau dan banyak pohonnya, rumah-rumahnya termasuk kelas menengah ke atas. “Nah kita sudah sampai nih !” kata Pak Dahlan ketika mobil berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan pintu gerbang tinggi. Pak Dahlan membunyikan klakson dan pintu kemudian dibuka oleh seorang pria tua berumur 60an. Punggung pria itu bongkok seperti punuk onta mirip Quasimodo dalam kisah hunchback from Notredame, wajahnya pun tidak bersahabat dengan mata sipit sebelah yang memberi kesan licik. Selly yang risih dengan kemunculan si bongkok itu buru-buru menepis tangan-tangan yang menggerayanginya dan membereskan pakaiannya yang tersingkap sana-sini. Selvy juga buru-buru melepas emutannya begitu tahu ada orang lain yang membukakan pintu. Akhirnya dia bisa mengambil udara segar lagi sambil mengancingkan lagi bajunya yang sudah terbuka. “Itu Thalib, tukang kebun dan penjaga disini, ntar kalian juga kenalan sama dia kok” kata Pak Dahlan. Dari halaman depan mobil terus melaju memasuki garasi. Pak Dahlan menggandeng tangan Selly ke kamarnya, sepertinya pria tambun itu sudah tidak sabaran lagi menikmati kehangatan tubuhnya. Imron mengikutinya dari belakang sambil memapah Selvy. Mata si bongkok Thalib nampak nanar memandangi dua dara kembar itu apalagi tangan jahil Imron mengelusi pantat Selvy. Rumah Pak Dahlan walaupun tidak terlalu besar namun cukup menarik, beberapa lukisan tergantung di dindingnya sehingga terkesan elegan. Di tempat ini Pak Dahlan tinggal sendiri hanya dengan Thalib yang bertugas menjaga rumahnya, si bongkok itu juga masih famili jauhnya dari kampung. Pak Dahlan sudah lama bercerai dengan istrinya yang membawa serta seorang anaknya, sedangkan seorang lain yang ikut dengannya sudah bekerja di kota lain. Mereka pun akhirnya memasuki kamar Pak Dahlan di lantai dua yang didominasi warna krem dari wallpapernya dan perabotan bergaya klasik. “Kita mandi dulu yah Ron, anggap aja rumah sendiri !” kata Pak Dahlan sambil membawa masuk Selly ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Imron menghempaskan tubuh Selvy di ranjang empuk itu oleh Imron dan tanpa buang waktu lagi diterkamnya gadis itu. “Aahh…jangan Pak, tolong hentikan, saya mohon ahh !” rintihnya ketika Imron menggumulinya dengan kasar dan bernafsu. Rok hitam Selvy sudah terangkat sampai pinggang sehingga paha mulus dan celana dalamnya yang berwarna biru muda itu terlihat kemana-mana. Imron mengunci kedua pergelangan tangan Selvy diatas kepala gadis itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus pahanya dan selangkangannya yang masih tertutup celana dalam. Wajah mereka sangat berdekatan, Selvy tegang sekali melihat pandangan mata Imron yang penuh nafsu binatang apalagi ditambah wajahnya yang jelek itu, dia hanya bisa memelas lewat tatapan matanya yang sembab oleh airmata. “Seumur-umur akhirnya bisa juga saya main sama cewek kembar cantik kaya gini hehehe” ujarnya sambil tertawa mesum “Non sebaiknya nurut aja yah supaya kita sama-sama enak dan ga perlu kuatir lagi tentang nilai atau rekaman bugil Non Selly tadi” Selvy benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi paling sulit dalam hidupnya itu, dilema yang luar biasa yang baru pernah dialaminya. Tiba-tiba wajah Imron maju menciumi bibir mungilnya dengan kasar, sia-sia dia menghindar dengan ruang gerak sekecil itu hingga akhirnya Imron kembali melumat bibirnya. Tangan kanannya menarik celana dalamnya ke bawah hingga betis kemudian jari-jarinya mulai bermain-main di vaginanya. Lidah Selvy yang berusaha menolak lidahnya justru semakin membuatnya bernafsu mencumbunya. Beberapa saat lamanya Imron terus menciumi bibirnya dan menggosok-gosok bibir vaginanya. Nafas Selvy semakin berat dan terpaksa pasrah saja, jari-jari Imron yang ditusuk-tusukkan ke vaginanya sadar atau tidak telah membangkitkan libidonya. Menyadari perlawanan korbannya melemah, Imron menyerang daerah lainnya, kancing kemeja gadis itu dia buka semuanya, bra dengan pengait di depan itu sudah lepas sejak di mobil tadi dan belum dikaitkan kembali sehingga payudaranya langsung terekspos begitu bajunya dibuka. Selvy menutupi buah dadanya dengan menyilangkan tangan, namun Imron mencengkram kedua pergelangan tangannya dan melebarkannya ke samping badan. Dia memejamkan mata dan menangis, Hendra, pacarnya saja belum pernah menyentuhnya, tapi seorang penjaga kampus bertampang buruk dan seusia ayahnya malah sudah meremas, menjilati dan mengenyotnya. “Sssrrreepp…ssluurp !” demikian bunyi suara hisapan Imron pada kedua payudara Selvy secara bergantian. Gadis itu menggeliat-geliat dengan suara-suara memelas minta dilepaskan yang hanya ibarat menambah minyak dalam api birahi pemerkosanya. Cukup lama Imron menyedoti payudara Selvy sehingga meninggalkan bekas cupangan memerah pada kulit putihnya dan jejak basah karena ludah. Jilatannya menurun ke perutnya yang rata sambil tangannya membuka resleting roknya serta memelorotinya hingga lepas. ‘Tidak…jangan Pak, jangan !” ucap Selvy memelas sambil merapatkan kedua belah paha ketika Imron mau menjilati vaginanya. Imron hanya menyeringai dan membuka paha Selvy dengan setengah paksa lalu membenamkan wajahnya pada vagina gadis itu. Tubuh Selvy menggelinjang begitu lidah Imron yang panas dan kasar itu menyapu bibir kemaluannya, bagi Selvy lidah itu adalah lidah pertama yang pernah menyentuh daerah itu, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir merasakan sensasinya. Imron berlutut di ranjang dan menaikkan kedua paha Selvy ke bahu kanan dan kirinya sehingga badan gadis itu setengah terangkat dari ranjang, dengan begitu dia melumat vaginanya seperti sedang makan semangka. “Sudahhh Pak…ahh…aahh !” desah Selvy memelas saat lidah Imron masuk mengaduk-aduk bagian dalam vaginanya. Sekalipun hatinya menolak, tubuhnya tidak bisa menolak rangsangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Harga diri dan perasaan bersalah pada pacarnya bercampur baur dengan birahi dan naluri seks. Sekitar seperempat jam Imron memperlakukan Selvy demikian, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris gadis itu menghanyutkannya dalam permainan liar ini. “Eenngghh…aaahh !” Selvy pun akhirnya mendesah panjang dengan tubuh mengejang. Imron melahap cairan orgasme Selvy dengan rakus sampai terdengar suara menghirupnya, dia menyedoti bibir vagina Selvy sehingga tubuhnya makin menggelinjang. Orgasme pertama begitu dahsyat baginya sehingga membuatnya takluk pada pria itu. “Enak kan Non, hehehe !” seringai Imron dengan mulut belepotan lendir. Imron mengangkat kepala Selvy dan kembali melumat bibirnya sehingga Selvy dapat merasakan cairan kemaluannya sendiri. Sesaat kemudian dia buru-buru membuka pakaiannya sendiri dan mulai ambil posisi di antara kedua belah paha Selvy dan menggesekkan kepala penisnya ke bibir vagina Selvy. “Jangan Pak, saya gak mau” kata Selvy menghiba. “Sstt !” Imron menempelkan jari di bibirnya “jangan ribut terus, Bapak minta kamu ridho yah demi nilai dan saudara kamu !” Imron mulai menekan penisnya memasuki vagina Selvy. Air mata gadis itu meleleh karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mempertahankan kehormatannya. Dari kamar mandi dekat situ sesekali terdengar suara erangan bercampur suara gemericik shower, pastilah saudara kembarnya itu mengalami nasib yang sama dengannya. “Sakit…aahh…hentikan Pak, tolong aahh !” rintihnya terengah-engah ketika Imron memaksakan penisnya memasuki vaginanya yang masih sempit. Kepala penisnya yang disunat itu sudah terbenam, ditekannya lebih dalam dan paha Selvy dibentangkannya lebih lebar. Imron menekan-nekankan penisnya sambil melenguh karena kemaluan gadis itu masih sangat sempit. “Aaahh…perih !” rintihnya sambil meronta. Imron sudah benar-benar kesetanan, dia tidak peduli dengan Selvy yang kesakitan malah ekspresi wajah Selvy membuatnya makin bernafsu. “Aakhhh !” jerit gadis itu begitu Imron menghentakkan pinggulnya agak kuat sehingga penisnya masuk lebih dalam dan mengoyak selaput daranya. Rasa perih melanda kemaluannya sampai tangannya meremas kuat-kuat sprei di bawahnya, tubuhnya mengejang dengan mata membelakak. Dia tidah pernah membayangkan kegadisannya direnggut paksa oleh penjaga kampus amoral itu. “Hmm…saya paling suka ngebobol memek perawan seperti Non ini, sempit dan enak !” celoteh Imron sambil memulai gerakan memompanya. Selvy memejamkan matanya yang berair dan menggigit bibir, dia merasakan sesak sekali di bawah sana, batang keras berurat itu terasa sekali menggesek dinding vaginanya. Setelah belasan pompaan diselingi sodokan keras, rasa sakit yang dialami Selvy sekonyong-konyong berubah menjadi sensasi erotis yang membuatnya melayang. Rintihan kesakitannya makin terdengar seperti erangan nikmat. Libido kini semakin menguasai hati dan pikiran Selvy, dia memang merasa bersalah sekali dan berkali-kali dalam hatinya meminta maaf pada Hendra, pacarnya dan Selly, kakak kembarnya karena tidak sanggup lagi menahan diri terhanyut. Genjotan Imron yang makin kasar membuat tubuhnya berguncang-guncang, payudaranya pun ikut bergetar. Kini Imron menindih tubuhnya, memeluknya dan mencumbu mulut Selvy yang terbuka dan mengeluarkan desahan. Selvy kini pasrah menerima lidah Imron yang bermain-main di mulutnya bahkan lidahnya juga turut saling menjilat dengan lidah kasar penjaga kampus itu. Percumbuan itu membuat nafasnya makin naik turun dan wajahnya makin memerah. Mau tidak mau birahi Selvy pun naik apalagi sambil menggenjot Imron terus menggerayangi tubuh mulusnya terutama payudara, paha dan bongkahan pantatnya. “Uhh-uhh…bener-bener masih seret, ini uenaknya memek perawan !” puji Imron ditengah genjotannya. Batang kemaluan Imron keluar masuk dengan cepat menggesek dinding vaginanya. Tanpa disadari kedua lengan Selvy memeluk tubuh Imron yang menindihnya, perkosaan ini telah menghanyutkannya tanpa dapat ditolak. Tak lama kemudian Selvy merasa pandangan matanya berkunang-kunang, dari dalam tubuhnya serasa ada suatu gelombang dahsyat yang tidak bisa ditahannya sehingga membuat tubuhnya menegang, perasaan ini jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya tadi, dia tidak bisa tidak mengerang. Tangannya yang saling genggam dengan Imron mencengkram semakin erat dan dari mulutnya terdengarlah desahan panjang orgasme. Melihat korbannya orgasme, Imron makin bergairah menggenjotnya, dia berusaha menyusulnya, kemaluan mereka yang bertumbukan menghasilkan bunyi kecipak akibat cairan orgasme yang dikeluarkan Selvy ketika klimaks. Cairan yang membasahi selangkangan itu bercampur dengan darah keperawanan Selvy sehingga terlihat agak merah. “Aahh…ahh…keluar Non, Bapak keluar juga, uuggghh !” lenguh Imron ketika menyemburkan spermanya yang hangat dan kental di dalam rahim Selvy. Semprotan cairan itu makin lemah seiring dengan pompaan Imron yang mulai turun kecepatannya. Selvy terkapar lemas di ranjang, keringat telah membasahi tubuhnya beserta kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya itu. Nafasnya terputus-putus membuat kedua gunung kembarnya ikut turun naik. Imron masih menindih tubuhnya menikmati sisa-sisa klimaksnya. Kamar yang tadinya berisik karena suara bercinta itu sementara hening dan hanya terdengar suara nafas terengah-engah. Kita tinggalkan dulu Selvy dan Imron sejenak untuk melihat keadaan kembarannya, Selly dan Pak Dahlan di kamar mandi. Tempat berlantai marmer coklat itu tidak besar, ada sebuah toilet duduk bersebelahan dengan bak air, di seberang kloset terdapat wastafel yang di sebelahnya ada sebuah tempat shower bertirai plastik. Begitu pintu kamar mandi ditutup, pria tambun itu langsung memeluk Selly dari belakang, tangannya langsung menyingkap roknya dan membelai naik pahanya menuju ke selangkangan. “Ayo Selly sayang, Bapak ga mau ngeliat kamu menikmati dengan terpaksa gitu, Bapak pingin kamu sepenuh hati, ntar kesana-kesana nilainya pasti Bapak bantuin” katanya dekat telinga Selly. “Ihh…lepas…lepasin !” gadis itu meronta dan menyentakkan tubuh hingga terlepas dari dekapan Pak Dahlan “denger yah Pak, jangan sembarangan panggil saya sayang dan ga usah peluk-peluk gitu, saya juga bisa buka baju sendiri !” Pak Dahlan cengengesan saja mendengar omelan Selly “Ok, fine, kalau gitu silakan lakukan sendiri, saya tunggu nih !” katanya sambil duduk di tutup kloset. “Jadi anda menikmati memancing di air keruh, memanfaatkan gadis-gadis tidak berdosa untuk nafsu setan anda ini !” ucap Selly ketus sambil dengan berat membuka satu-persatu pakaiannya. “Yah, bisa dibilang gitu, sebagian dari mereka ada yang datang sendiri menyerahkan diri, ada juga yang terpaksa, tapi akhirnya sih sama aja, soalnya mereka juga menikmati kok hehehe” pria itu tertawa mesum menyaksikan tubuh Selly yang semakin telanjang. “Nggak tau malu !” Selly dengan geram melemparkan celana dalamnya yang baru lepas ke wajah Pak Dahlan. Pak Dahlan hanya cengengesan mengambil celana dalam itu dan mengendusinya, celana dalam itu bahkan dia masukkan ke kepalanya seperti kupluk. “Eemm…wangi, saya suka wanita galak seperti kamu, bikin saya tertantang untuk menjinakkan” ujarnya seraya menggerakkan telunjuk memanggilnya mendekat. Dengan jantung berdebar-debar, Selly menuruti saja permintaannya karena tidak ada pilihan lain. Dia kini berdiri telanjang di depan Pak Dahlan dengan tangan menutupi auratnya. Bulu kuduknnya merinding merasakan tangan kasar pria itu mengelusi pinggir tubuhnya dari pinggang, paha, lalu mengarah ke selangkangan. Pria itu menyingkirkan telapak tangan yang menutupi kemaluannya, matanya menatap nanar kemaluan yang berbulu jarang dan halus. Selly sendiri merasa tegang, walau sebelumnya dia pernah telanjang di depan Fredy sehingga terlibat oral seks dan petting. “Sini, duduk sini !” perintah Pak Dahlan sambil menepuk pahanya sendiri “jangan nyamping gitu dong, ga enak, hadap-hadapan ayo!” katanya lagi menyuruh Selly mengubah posisi duduknya yang menyamping. Selly terpaksa harus membuka pahanya agar bisa duduk di pangkuan pria itu sesuai yang dimintanya. Tangan pria menaruh kedua tangannya pada kedua pahanya, lalu dielusi keatas hingga tangannya mencaplok kedua payudaranya. Selly mendesis saat tangan itu meremasi kedua gunung kembarnya. Jari-jari gemuk itu memilin-milin dan memencet putingnya sehingga benda itu semakin mengeras saja. Kemudian mulutnya mendekati payudara yang kiri dan menciuminya, kumis kasar pria itu menggelitik payudaranya belum lagi mulutnya menghisap-hisap seperti sedang menyusu. Tangan kanannya merambat turun ke arah vaginanya. Selly tersentak seperti kesetrum ketika jari Pak Dahlan mengelusi bibir vaginanya, kakinya mau merapat menahan geli, tapi tidak bisa karena terhalang paha gemuk pria itu. Mulut Pak Dahlan berpindah-pindah melumat payudara kanan dan kiri gadis itu sambil tangan kanannya mengelus-elus kemaluannya yang makin berlendir. Sekalipun berusaha untuk tidak menikmati, toh pertahanan Selly bobol juga karena serangan erotis yang gencar dari Pak Dahlan. “Sudah Pak, hentikan…ahhh…emmhh !” gadis itu tidak bisa menahan desahan sambil memegangi kepala Pak Dahlan yang sedang menyusu. Tubuh Selly makin berkelejotan terutama setelah Pak Dahlan memasukkan jari-jari gemuknya ke vaginanya dan meliuk-liuk di dalam seperti cacing. Ciuman Pak Dahlan pun semakin merambat naik ke pundak, leher, telinga, mengarah ke mulutnya. Selly memalingkan wajah menolak dicium namun pria itu menahan kepalanya sehingga ciumannya tak bisa dihindari lagi, tubuhnya meronta sebagai penolakan dicium pria itu, tapi tetap tidak mampu karena pria tambun itu memeluknya dengan erat. Lidah Pak Dahlan terus menjilati bibir tipisnya memaksa masuk ke mulutnya, ketika telah berhasil masuk lidah itu langsung menjilati rongga mulutnya, secara refleks lidah Selly pun ikut meronta. Dengan permainan lidah seperti itu ditambah lagi dengan jari-jari yang bergerak liar pada vaginanya, Selly pun bangkit nafsunya, bahkan kini dia memberanikan diri memeluk pria itu. Erangan tertahan terdengar dari mulutnya saat Pak Dahlan mengerakkan jarinya keluar masuk liang vaginanya. Ciuman Pak Dahlan merambat turun lagi ke lehernya yang jenjang, kulitnya yang putih mulus itu dihisapnya hingga menggelinjang, namun Selly bersyukur juga bisa mengambil udara segar setelah percumbuan yang cukup lama dan panas itu. Pak Dahlan juga menarik keluar dua jari yang memasuki vaginanya, cairan yang belepotan di jari itu dia oleskan pada puncak payudara kanannya untuk selanjutnya diemut-emut. Puting Selly sudah benar-benar mengeras akibat dirangsang terus daritadi. “Kita mandi dulu yuk, biar segar !” ucap Pak Dahlan seraya menurunkan tubuh Selly dari pangkuannya dan menuntunnya ke arah shower. Pria itu menyalakan air hangat yang mengguyur tubuh telanjang Selly, kemudian dia membuka bajunya sendiri, kecuali celana dalam Selly yang dia pakai sebagai kupluk di kepalanya. Terlihatlah perutnya yang bulat dan penisnya yang berukuran 17cm dan berdiameter tebal, benda itu sempat membuat Selly tertegun membayangkan benda itu akan segera mengaduk-aduk vaginanya. Setelah membuka baju, pria itu pun ikut masuk ke daerah shower. “Kamu cantik sekali Sel !” ucapnya dengan mengangkat wajahnya yang tertunduk dan mengusap rambut basahnya ke belakang, dipandangnya wajah cantik yang sudah basah itu dalam-dalam. Selly diam saja walau pandangan matanya masih tajam menyisakan kemarahan dan kebencian, dia merasa mandi dengan seekor babi hutan, tangannya terkepal keras, ingin rasanya dia meninju atau menampar bajingan berkedok dosen ini, atau bahkan membunuhnya kalau saja dia tidak mengingat adik kembarnya dan rekaman bugilnya. Karenanya dia hanya pasrah ketika Pak Dahlan mendekapnya dari belakang., pria itu memberikan ciuman di pundak dan lehernya sementara tangannya menggerayangi tubuhnya dengan gemas. Selly dapat merasakan penis yang sudah mengeras itu bersentuhan dengan pantatnya. Tangan Pak Dahlan meraih botol sabun cair, membuka tutupnya dan menumpahkan isinya pada tubuh Selly. Setelah dirasa cukup, dia taruh botol itu pada tempatnya dan mulai menggosok tubuh gadis itu dengan telapak tangannya. Mula-mula dia menggosok leher, bahu, pundak lalu berlanjut ke depan ke perutnya lalu naik ke buah dadanya, dengan lembut tangan kasarnya menggosok dan memijat sambil lidahnya menggelitik telinganya sehingga sadar atau tidak Selly makin terbuai dan terangsang berat, matanya sampai merem-melek dan mulutnya mendesah-desah. Dia harus mengakui bahwa pria yang telah menjebak dan dibencinya ini sanggup membuatnya mabuk birahi dibanding pacarnya sendiri. “Enngghh…!” desahnya lebih panjang ketika tangan gempal itu menyentuh vaginanya. Pak Dahlan menggosokkan tangannya pada daerah itu sehingga makin berbusa. “Memeknya Bapak cuciin yah, biar bersih dan ngentotnya enak” katanya dekat telinga Selly yang tidak menyangka kata-kata senajis itu bisa keluar dari mulut dosen yang bahkan menjabat kepala jurusan. Pak Dahlan memeluk makin erat tubuh Selly yang kini telah licin dan berlumuran busa sabun. Dia menggesek-gesekkan tubuh tambunnya dengan tubuh mulus Selly yang licin bersabun. Mata Selly sedikit terpejam ketika Pak Dahlan melakukan hal itu, dia tak bisa menahan sensasi nikmat dari sentuhan dan belaian erotis itu. Tidak ingin korbannya pasif, Pak Dahlan menarik wajah Selly agar bisa melumat bibirnya. Kali ini mendobrak pertahanan mulut Selly tidak sesulit tadi, karena mulutnya sudah setengah terbuka karena mendesah terangsang. Untuk mengurangi rasa jijiknya Selly membayangkan berciuman dengan Fredy, dengan begitu kecanggungannya membalas French kiss Pak Dahlan juga berkurang, bahkan kini dia lebih berani menggerakkan tangan memeluk kepala Pak Dahlan di belakangnya. Dibawah guyuran air hangat mereka berciuman dengan panas dalam posisi 99, sungguh menggairahkan. Setelah puas berciuman, Pak Dahlan menyuruhnya menunggingkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan bertumpu di tembok. Kemudian dia lebarkan sedikit paha gadis itu dan mulai memasukkan batang kemaluannya dari belakang. Sadar akan segera kehilangan keperawanannya, Selly menyesal dalam hatinya kenapa tidak dari waktu itu dia serahkan keperawanan itu pada Fredy ketika terlibat petting dulu, sekarang sesuatu yang dijaganya itu sebentar lagi direnggut oleh dosen bejat yang dibencinya ini. “Aaahhh !” Selly menjerit nyaring saat penis Pak Dahlan tertekan masuk mengoyak vaginanya.. “Pertama kali masuk emang sakit Sel, tapi Bapak jamin kamu ntar keenakan kok !” sahut Pak Dahlan membiarkan penisnya menancap di vagina Selly agar gadis itu beradaptasi dan dia bisa meresapi nikmatnya himpitan bibir kemaluan perawan yang masih sempit. Sambil memegangi pantat Selly, Pak Dahlan mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan frekuensi genjotan makin naik. Setiap pria itu menyentakkan pinggulnya, Selly mendesah keras sampai suaranya terdengar keluar, dia merasa perih dan ngilu, namun juga ada rasa nikmat bercampur di dalamnya, penis yang menyesaki liang kemaluan itu menggesek-gesek klitorisnya yang tentu saja merangsang gairahnya. Tangannya dengan liar menggerayangi tubuhnya yang licin. Pak Dahlan melenguh-lenguh seperti kerbau gila menikmati penisnya menggesek-gesek dinding vagina Selly yang bergerinjal-gerinjal. Suara mereka menyatu dengan suara siraman dan kecipak air di kamar mandi. Pinggul Selly kini malah ikut bergoyang mengimbangi sentakan-sentakan Pak Dahlan. Lama-lama Selly pun tidak tahan lagi, tubuhnya menggelinjang karena klimaks, desahan panjang terdengar dari mulutnya, dia merasakan mengeluarkan cairan dari vaginanya, tapi bukan kencing, cairan hangat itu bercampur dengan darahnya meleleh keluar selangkangannya. Selama klimaksnya, Pak Dahlan tidak sedikitpun berhenti maupun memperlambat genjotannya, sebaliknya dia semakin bersemangat melihat korbannya telah takluk. Pasca klimaks, Selly merasa tubuhnya lemas dan tenaganya tercerai berai, sebagai pria berpengalaman Pak Dahlan telah mengetahuinya, maka tangan kokohnya melingkari perutnya untuk menopang tubuh gadis itu dan dibawanya kembali dalam dekapannya pada posisi 99 sebelumnya. Dia mundur selangkah sehingga air shower menyiram tepat di tubuh Selly membasuh sabun di tubuhnya. “Kamu puas kan Sel ?” tanyanya Selly tidak menjawab, dia tetap membenci pria ini walau tidak bisa dipungkiri pria ini juga yang barusan memberinya orgasme dahsyat. Pak Dahlan lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan tubuh Selly yang masih lemas itu jatuh bersimpuh di depannya. Setelah membersihkan penisnya yang berlumuran darah keperawanan dan mematikan shower, dia perintahkan gadis itu berlutut menghadapnya dan mengoral benda itu. Selly terpana memandangi penis hitam yang mengacung tepat di depan mukanya, benda yang baru saja menodainya dan juga sejumlah gadis lainnya. Suasana hening sejenak, yang terdengar hanya sisa tetesan air shower, udara di dalam masih hangat sehingga cermin wastafel berembun. “Ayo pegang dan masukin mulut dong, tunggu apa lagi ?” Pak Dahlan sepertinya tidak sabaran. Dengan gemetaran dia menggerakkan tangannya menggenggam batang itu dan memijatnya perlahan. “Ayo, diemut dong, Bapak kan pengen ngerasain disepong sama kamu Sel !” ulangnya dengan mendekatkan wajah Selly ke penisnya. Selly melirik ke atas memandang pria itu dengan marah, tapi dia tetap memasukkan penis itu ke mulutnya karena terpaksa. Itu adalah penis kedua yang pernah masuk ke mulutnya setelah Fredy. Selly pun mulai mengulum penis Pak Dahlan sambil mengocoknya, dia mengeluarkan seluruh kemampuan oral seksnya termasuk menjilat dan mengisap sehingga pria itu bergetar dan mengerang karena nikmatnya. Kepala Selly maju mundur selama beberapa menit ke depan, mulutnya sampai pegal karena penis yang berdiameter lebar itu menyesakkan mulutnya. Selly merasakan kepala penis yang disunat itu makin berdenyut-denyut dan pemiliknya juga makin mendesah. “Telan pejunya Sel, Bapak keluar nih…yah…iyah….uuhh !” desah pria itu bersamaan dengan muncratnya spermanya di mulut gadis itu. Cairan itu sangat kental dan aromanya sengit, Selly sudah mau memuntahkannya namun kepalanya ditahan pria itu, sehingga dia tidak bisa menghindari sperma itu memenuhi mulutnya, cairan putih susu itupun akhirnya tertelan olehnya. Dia tidak bisa berbuat apapun selain cepat-cepat menelan cairan itu agar tidak terasa di mulutnya. Dia merasa geli dan jijik, sperma pacarnya saja waktu itu tidak ditelannya, tapi sperma pemerkosanya ini kini harus dia telan. Setelah semprotannya selesaipun, Pak Dahlan memerintahkannya menjilati bersih batang kemaluannya baru dilepaskan. Terpaksa dia menjilati sisa-sisa sperma pada batang itu dan kepalanya yang seperti jamur, pasca ejakulasi, ukuran benda itu berangsur-angsur menyusut dalam mulutnya. Setelah ejakulasi, Pak Dahlan membantunya bangkit berdiri. “Hebat Sel, pelayanan kamu bener-bener mantap, Bapak janji bakal bantu nilai kamu dan setiap kamu mendapat mata kuliah yang saya ajarkan Bapak jamin nilai kamu A !” kata Pak Dahlan penuh kepuasan dengan meletakkan kedua tangan di pundak Selly. “Terima kasih” balas Selly dengan dingin “bagaimana dengan saudara saya ?” “Oo…tentu-tentu, kalian akan saya bantu, asal banyak bersikap manis ke saya” jawabnya sambil tersenyum lebar dan kembali mendekap gadis itu. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu dan suara pria di pintu memanggil si dosen bejat itu. Pak Dahlan berjalan ke pintu sambil mengelap tubuhnya dan melilitkan handuk itu ke pinggang. Selly bersembunyi dibalik tirai plastik kala melihat Thalib muncul di pintu, dia memberitahu bahwa ada telepon mencari majikannya itu di ruang tengah sana. Tanpa meninggalkan pesan apapun Pak Dahlan meninggalkannya sendirian di kamar mandi itu. Selly baru sadar sperma tadi sempat menetes di dagu dan lehernya, diapun kembali menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya, dengan air shower itu juga dia berkumur-kumur mengurangi aroma sperma dan penis yang masih terasa di mulutnya. Setelah selesai, diambilnya sebuah handuk putih di dekat situ untuk mengeringkan tubuhnya. Saat itu dia teringat lagi pada kembarannya, Selvy, buru-buru dia lilitkan handuk pada tubuhnya dan keluar kamar mandi memanggil nama kembarannya, namun di kamar sudah tidak ada seorangpun selain baju-baju yang berceceran dan ranjang yang spreinya sudah kusut. Gantungan kunci penerima sinyal yang berkedip-kedip pada tasnya di meja memancing perhatiannya. Ada yang menelepon ke HP nya yang hanya diaktifkan getarannya, dia melihat sudah tiga miscall dan dua SMS masuk ke HP itu. Yang menelepon kali ini adalah pacarnya, Fredy. “Hoi, Sel, ngapain aja kok daritadi gua telepon ga ada yang angkat sih, gua telepon si Selvy punya juga gitu ?” sahut Fredy di telepon. “Oohh…iya iya hehehe, sory abis ringtonenya lupa dinyalain lagi, tadi kan ujian nih, sory banget yah !” jawab Selly dengan nada meyakinkan. “Terus lu orang sekarang dimana nih ? gimana ujian tadi ?” “Lancar-lancar aja kok Dy, sekarang lagi di kost temen sama-sama ngerjain take home test nih” “Ooo, ya udah, ntar malam gua juga lembur nih Sel, ntar kalau ujiannya beres kita have fun yah, stress nih gua juga” “Ok deh, sekarang jia you yah kerjanya biar si bos seneng ke lu hehehe !” “Lu juga yah Sel, semangat belajarnya, I luv u !” “Iya, sama gua juga, see you, bye” Telepon pun berakhir setelah Fredy membalas salam perpisahan Selly, wajah Selly yang sempat tersenyum sebentar kembali muram setelah sandiwara itu selesai. Dia merasa bersalah karena baru saja membohonginya bahkan berselingkuh darinya. Ingin rasanya dia meringkuk di pojok dan menangis sepuasnya kalau saja tidak teringat tujuannya semula, mencari kembarannya. Selly bergegas keluar dari kamar itu sambil memanggil nama saudaranya. Di koridor dia mendengar suara kasak-kusuk dan desahan tertahan dari bawah. Dia langsung berjalan ke arah tangga, baru sampai di tengah tangga dia sudah terperangah dan menjerit kecil menyaksikan apa yang terjadi di ruang tengah, bulu kuduknya merinding menyaksikan adegan di sebuah sofa dimana Selvy sedang duduk menaik-turunkan tubuhnya di pangkuan Pak Dahlan dengan penis pria itu tertancap di vaginanya. Sementara Imron berdiri di depannya menikmati penisnya diemut olehnya. Di sisi lainnya, Thalib, si monster Quasimodo itu sedang asyik menciumi dan menggerayangi buah dada Selvy. Imron dan Thalib menengokkan wajah sambil menyeringai mesum melihat kedatangan Selly, sedangkan Selvy hanya bisa menatap sayu ke arahnya karena sedang disibukkan dengan penis di mulutnya. Selvy melalui tatapan matanya seolah mengatakan ‘jangan kesini, pergi sana atau mereka juga akan memangsamu!’ Sebagai saudara, Selly tentu saja tidak akan melakukan hal itu, melihat kembarannya dikerjai seperti itu diapun merasakan seperti ada kontak batin yang membuatnya bisa merasakan apa yang dirasakan Selvy. “Lepaskan dia Pak, kasian dia dikeroyok gitu, tolong Pak saya mohon !” seru Selvy menarik-narik lengan Imron yang sedang menikmati penisnya dioral. Imron yang merasa terganggu akhirnya melepaskan penisnya dari Selvy dan berjalan mendekati Selly dengan wajah mesum memandangi tubuhnya yang hanya dililit handuk. Selly sendiri sampai mundur-mundur karena ngeri melihat ekpresi pria itu seperti binatang buas yang hendak menerkamnya, penisnya yang basah masih tegak mengacung masih perlu dikenyangkan. Selly terdesak sampai ke lemari TV hingga tak bisa mundur lagi, Imron memepetnya dan menyenderkan telapak tangan kirinya ke lemari tepat sebelah kepala Selly. “Non udah ngenganggu acara saya sama Non Selvy, sekarang Non mau ngasih saya apa nih buat kompensasinya heh ?” katanya dekat wajahnya hingga hembusan nafas itu terasa. “Eengg…saya aja Pak, garap aja saya sepuas Bapak, saya cuma kasian sama saudara saya !” jawabnya bergetar. “Hehehe…bener-bener kasih persaudaraan yang membuat saya terharu, emang Non yakin bakal lebih bisa muasin saya dari Non Selvy ?” tanya Imron memeloroti martabat Selly. Saat itu perasaan Selly sungguh galau dan bimbang, pandangan matanya berpindah-pindah antara kembarannya yang sedang dikerjai dua pria di sofa sana dan Imron di depannya. Secara jujur tentu dia tidak rela disetubuhi oleh penjaga kampus mesum di depannya ini, namun demi mengurangi penderitaan saudaranya, apa boleh buat walaupun dirinya juga harus menahan malu berbuat seperti itu di depan saudaranya sendiri. Setelah mengambil nafas panjang, diapun meraih ujung handuk yang diselipkan sehingga handuk itu jatuh dan terlihatlah tubuh telanjangnya yang mempesona. Lalu dia raih juga tangan Imron dan meletakkannya di payudaranya. “Ini yang anda mau kan Pak !” kata Selly dengan geram. Imron menyeringai menatap wajah Selly sambil tangannya meremas payudara itu. Mengetahui Imron sudah tergoda olehnya, Selly melanjutkan serangannya dengan melingkarkan tangannya di leher Imron dan berinisiatif mencium bibir tebalnya. Meskipun jijik, Selly memaksakan diri melakukannya, dia mengeluarkan segenap teknik berciumannya pada Imron membuat Imron takjub akan perubahan reaksi gadis ini 180 derajat. Gairah si penjaga kampus bejat itu pun ikut naik, payudara Selly yang kenyal dan berkulit lembut itu dia remasi dengan gemasnya, tangan satunya turun ke bawah membelai punggung turun ke pantatnya yang juga diremas dan ditepuk pelan. Selly membiarkan lidah Imron menjilati lidahnya, bahkan dia sendiri ikut menggerakkan lidahnya hingga saling berpagutan dengan Imron, payudaranya sengaja dia gesekkan ke dada Imron untuk memancingnya. Sedang panas-panasnya terlibat percumbuan dengan Imron tiba-tiba Selly merasa ada tangan lain yang mengelusi pantat dan pahanya juga seperti ada yang menjilat pahanya, dia membuka matanya yang terpejam dan dilihatnya si bongkok, Thalib sedang berjongkok mengelusi tubuh bawahnya, sepertinya dia sangat kagum dengan pahanya yang jenjang lagi putih mulus sehingga tak tahan menjulurkan lidah menjilati kulit pahanya. Selly merasa senang karena dengan begini dia membantu meringankan beban kembarannya, kini Selvy tinggal melayani Pak Dahlan seorang masih naik turun di atas pangkuan pria itu, namun dia juga merasa bergidik membayangkan akan digumuli dua monster ini, terutama Thalib yang mirip Quasimodo dari Notredame itu. Selly berusaha memberikan pelayanan terbaiknya agar kedua monster ini betah bersamanya dan tidak mengeroyok saudaranya. Sekarang dia berlutut diantara keduanya, tangan kanannya menggenggam penis Imron dan yang kiri penis Thalib. Dia membiarkan dirinya terhanyut dalam gelombang birahi dan membuang segala rasa jijiknya demi kembarannya. Kedua penis dalam genggamannya dihisap dan dijilat secara bergantian. “Huehehe…yang kakaknya ini lebih liar yah !” komentar Thalib ketika Selly mengemut penisnya sambil tangan satunya mengocok penis Imron. “Iya, bener-bener kakak yang baik ya, demi saudaranya dia sampai mau jadi perek buat kita berdua gini hehehe !” timpal Imron. “Bajingan kalian !” Selly cuma bisa berteriak dalam hatinya mendengar omongan yang begitu merendahkannya. Dia memilih untuk memasrahkan diri untuk diapakan saja oleh dua orang itu, yang penting mereka lebih mengarah dirinya. Lama-lama, diapun mulai terbiasa dengan dua batang penis hitam itu dan makin bersemangat mengoralnya. “Wuih…sepongannya enak tenan loh !” ceracau Thalib yang penisnya sedang dihisap-hisap dengan disertai sapuan lidah Selly. Sebentar kemudian dia berpindah melayani penis Imron dengan cara yang tidak jauh beda, dua orang itu telah dibuat gregetan oleh pelayanannya. Ketika Selly sibuk mengemuti penis Thalib, Imron berjalan ke belakangnya dan memegangi pinggangnya, dia bersiap menusukkan penisnya dari belakang. Selly yang merasakan kepala penis itu sudah menyentuh bibir vaginanya melebarkan pahanya seolah menyambut. Menyeruak masuklah batang itu ke vaginanya dan mulai menggenjotnya dalam posisi doggie. Tangannya meremasi payudaranya dari belakang sehingga makin memanaskan nafsunya. Kembali rasa nyeri mendera vaginanya, apalagi penis Imron jauh lebih keras dan panjang dibanding Pak Dahlan, erangan tertahan terdengar dari mulutnya yang masih sibuk mengulum penis Thalib. Selly agak kewalahan karena ini baru pertama kalinya melayani dua pria sekaligus dan keduanya mengerjainya dengan brutal, setiap Imron menyodokkan penisnya, penis Thalib yang sedang dikulumnya makin tertekan ke dalam mulutnya. Tak lama kemudian, keluarlah sperma Thalib di mulut Selly dan sekali lagi mulut Selly belepotan sperma karena genjotan Imron membuatnya tidak konsentrasi menghisapnya sehingga cairan itu berleleran di pinggir-pinggir mulutnya. Walaupun jijik, dia tetap menelan habis cairan itu dan menjilati lelehan di pinggir bibirnya, selain itu dia melakukan cleaning service yang mantap pada penis Thalib sampai si bongkok itu blingsatan tidak karuan. Selly sendiri mulai merasakan kembali sensasi yang tadi dirasakan di kamar mandi bersama Pak Dahlan. “Aaahhh !” erangnya ketika mencapai klimaks, lendir vaginanya semakin banyak sampai terdengar bunyi berdecak dari tumbukan dua alat kelamin mereka. Selvy yang kini sedang ditindih tubuh gemuk Pak Dahlan dapat melihat jelas di depan matanya saudara kembarnya yang rela beradegan panas seperti seorang wanita haus seks demi meringankan bebannya. Air mata Selvy makin mengalir menyaksikan pengorbanan itu, sementara dia sendiri sedang menerima sodokan-sodokan penis Pak Dahlan. Sambil tetap menggenjot, Pak Dahlan mendekatkan wajahnya ke Selvy dan menciumi bibir mungilnya dengan ganas. Mau tidak mau Selvy harus melayani permainan lidah Pak Dahlan yang liar. “Eemmhh….eengghh !” desahnya tertahan ditengah gempuran-gempuran Pak Dahlan. Tangan gempal pria itu membelai paha dan pantatnya, kadang diselingi remasan dan cubitan gemas yang mempermainkan nafsunya. Selvy sudah sangat lelah karena sejak tadi disetubuhi sampai dia pasrah mau diapakan saja, keringatnya sudah membanjir membuat tubuhnya basah mengkilap, vaginanya pun terasa panas karena terus bergesekan dengan penis pria-pria yang menyetubuhinya. Setelah sepuluh menitan dalam posisi demikian, Pak Dahlan bangkit sambil mengangkat tubuh Selvy tanpa melepas penisnya, dia membaringkan diri telentang sehingga perutnya terlihat makin bulat, otomatis Selvy sekarang terduduk di atas penisnya. “Ayo, sekarang kamu dong yang goyang, Bapak cape nih goyang terus !” perintahnya sambil tangannya meraih satu payudara gadis itu. Selvy pun mulai menggerakkan tubuhnya naik turun sehingga Pak Dahlan nampak sangat keenakan. Sambil menikmati goyangan Selvy, tangannya menjelajahi lekuk-lekuk tubuhnya yang indah, yang paling sering diremas adalah kedua payudaranya itu karena sangat menggemaskan ketika terguncang-guncang seirama gerak naik-turun pemiliknya. Selvy mendesah tak karuan merasakan penis itu menusuk-nusuk vaginanya yang masih sempit. Matanya melihat tidak jauh dari situ, Selly sedang disetubuhi si bongkok, Thalib di atas lantai beralas karpet itu, tubuhnya bersandar pada Imron yang mendekapnya dari belakang sambil menggerayangi payudaranya dan menciumi lehernya. Tangan Selly nampak sedang memijati penis Imron. Thalib bersemangat sekali menggenjot Selly, beberapa kali dia menyodok dengan keras sehingga tubuh Selly tersentak dan mulutnya menjerit. Selvy tidak tahan melihat adegan itu lama-lama, insting sebagai saudara kembar membuatnya bisa merasakan apa yang dirasakan saudaranya yang malah menambah deritanya. Untuk mengalihkan itu dia memilih lebih berkonsentrasi pada pria di bawahnya itu. Dia makin gencar menggoyang-goyangkan pinggulnya hingga tubuhnya mulai mengejang lagi. “Yah…terus goyangnya, Bapak juga dah mau !” desah Pak Dahlan dengan mempererat cengkramannya pada payudara Selvy. Mereka pun akhirnya orgasme bareng, suara desahan mereka terdengar memenuhi ruang tengah. Sperma Pak Dahlan berlelehan diantara bibir vagina Selvy dan penis Pak Dahlan yang masih terbenam disana. “Hehe…liat tuh adik Non hebat juga ngentotnya, Non juga jangan mau kalah hayo !” ejek Imron. “Iya ayo, cewek kembar sama cantiknya, ngentotnya juga harus sama jagonya !” si bongkok itu menimpali. Kata-kata itu membuat hati dan telinganya panas, ingin rasanya dia menghabisi ketiga bajingan itu kalau saja punya kemampuan untuk itu. Tapi di lain pihak dirinya sendiri juga terbuai oleh rangsangan-rangsangan dari mereka. Tak lama kemudian Thalib mengerang panjang, ia telah orgasme dengan meremasi payudara kanan Selly dengan brutal sehingga Selly pun merintih kesakitan. Penis Thalib menyemprotkan sperma banyak sekali ke rahimnya. Frekuensi genjotannya berangsur-angsur turun dan dengan nafas tersenggal-senggal dia pun akhirnya memisahkan diri dari gadis itu. “Whui…puas aku ngentotin cewek cakep gini, sekarang nyoba adiknya ah !” ujar Thalib sambil menyeka keringar di dahinya lalu menghampiri Selvy yang masih terkulai diatas tubuh tambun Pak Dahlan. “Ja-jangan…jangan !” sahut Selly dengan tangan terjulur hendak mencegah. “Udah, ga apa-apa Non sekarang sama saya aja !” Imron makin mendekap Selly yang meronta. Untuk sementara Selly boleh lega karena Pak Dahlan ternyata masih lelah sehingga dia tidak ikut menggarap Selvy. Tubuh Selvy sekarang telah telentang dengan kaki terjuntai diatas meja ruang tengah dari kayu dan sedang digerayangi Thalib yang berlutut di sampingnya. Si bongkok itu tengah menjilati puting Selvy dan tangan satunya mengelus-elus vaginanya untuk membangkitkan kembali libido gadis itu. Ini bukannya pertama kali bagi Thalib, sebelumnya dia memang sering kebagian ‘jatah sisa’ dari wanita-wanita yang digauli majikannya yang dibawa ke rumah ini. Seperti sebuah makanan tersaji di meja, Thalib menjilat serta menciumi sekujur tubuh mulus itu dengan rakus. Tubuh Selvy menggeliat-geliat karenanya. Ciuman Thalib berakhir diujung kaki gadis itu, setelah puas mengemut sejenak jari kaki Selvy, si bongkok itu menyuruh Selvy membalikkan badan dan menunggingkan pantat. Dengan lemas Selvy mengikuti saja apa maunya, dia menungging dengan tubuh atas masih bersandar pada meja sehingga payudaranya sedikit tertekan di meja. Thalib mulai memasuki penisnya ke vagina Selvy, kali ini rasa sakitnya sudah tidak seberapa lagi karena daerah kewanitaannya sudah licin dan terbiasa. Sebentar kemudian tubuh mereka sudah menyatu dan bergoyang mencari kenikmatannya. Imron dan Selly sekarang telah berada disofa, tepatnya di belakang meja tempat Selvy sedang disodok dari belakang oleh Thalib. Ditengah sodokan-sodokan Thalib dari belakang Selvy dapat melihat di depannya Pak Dahlan sedang merokok dan wajahnya senyum-senyum menyaksikan sepasang kembar itu dikerjai habis-habisan sementara di sebelahnya kembarannya sedang menaik-turunkan badan di pangkuan Imron, nampak penis Imron basah mengkilap karena lendir dari vagina Selly. Kepala Selly menengadah ke atas dan mengeluarkan desahan, tangannya meremas rambut Imron yang sedang mengenyoti payudaranya, pipi pria itu sampai kempot saking kuatnya mengenyot. “Oohh…aahh…Pak !” erangan erotis Selly mewarnai setiap hentakan-hentakan tubuhnya membuat Imron makin bersemangat dan turut menghentakkan pinggulnya sehingga penisnya menusuk lebih dalam. Gerakan Selly makin liar saat di ambang klimaks, dia memutar-mutar pinggulnya sehingga rongga kemaluannya teraduk-aduk oleh penis Imron. Akhirnya, Selly mengerang keras dengan tubuh menggelinjang. Selama beberapa saat tubuhnya menggelinjang hingga akhirnya melemas kembali. Namun, rupanya Imron belum orgasme, maka dia menelentangkan tubuh Selly dengan menyandarkan kepalanya di bantal kursi dan meneruskan genjotannya. Lendir yang keluar dari vagina Selly sangat banyak sampai menetes sebagian ke kursi. Baru lima menit kemudian Imron menyusul ke puncak dan menumpahkan spermanya di perut dan buah dada Selly. Sementara di meja pun situasi semakin panas, genjotan Thalib yang semakin ganas menyebabkan desahan Selvy semakin keras pula. Si bongkok itu juga meremas-remas pantat sintal Selvy dan sesekali menepuknya. Tiba-tiba tubuh Thalib mengej

gadis..PersemBahaN

Fanny adalah gadis yang paling cantik dari seluruh gadis yang ikut dalam rombongan KKN itu. Tubuhnya tinggi semampai dan padat berisi, tinggi badannya yang hampir 170 cm membuatnya tampak begitu jangkung diantara rekan-rekannya, masih ditambah bentuk tubuhnya yang begitu indah dan sekal, apalagi kalau dia sedang memakai busana ketat seperti yang biasa dipakainya, membuat bagian-bagian tubuhnya yang vital seperti dada dan pantat terlihat menonjol. Wajahnya bulat dan hidungnya mancung khas orang bule tapi berkulit kuning langsat seperti orang Asia. Hal itu bisa dimengerti karena Fanny berdarah campuran Indonesia dan Italia, sebuah perpaduan Euro Asia yang sangat menarik menghasilkan wajah yang sangat khas. Ditambah lagi rambutnya yang kecoklatan lurus sepunggung dibiarkannya tergerai. Yang paling menarik dari Fanny adalah matanya yang kehijauan. Mata itu begitu bercahaya seperti batu zamrut berkilau. Pagi itu pondokan tempat Fanny tinggal terlihat begitu sepi, seluruh rekannya sudah berangkat untuk melakukan aktifitas, hanya Fanny yang tinggal di pondokan. Fanny yang hari itu memang tidak ada kegiatan menyibukkan dirinya dengan membaca buku novel yang sengaja dibawanya dari rumah. Baru saja Fanny membaca bebeapa halaman ketika didengarnya ketukan di pintu depan. Fanny yang pagi itu memakai blous putih dengan rambutnya yang berkilau lurus tergerai bebas terlihat lebih cantik dari biasanya. Dia tempak sedikit heran, siapa yang sepagi ini sudah bertandang ke pondokannya. Fanny segera menuju ke depan. Tanpa disangak-sangak, di ruangan depan sudah berkumpul tujuh orang pria setengah baya. Mereka adalah Pak Kades Wirya, Sarta Sekretaris desa, Pak Jamal tuan tanah yang paling kaya di seluruh desa, Pak Hasan jawara kampung, Pak Arman Mantri hutan dan dua orang lagi, yang satu sudah tua, kurus dengan wajah pucat seperti orang sakit dikenalnya sebagai Amar, salah satu sesepuh desa. Yang duduk di sebelah Amar badannya kurus dan jangkung dengan janggut kambing. Fanny tidak tahu nama aslinya, orang desa lebih dering menyebutnya Ki Wongso, orangnya sudah tua sekali, mungkin sudah lebih dari 70 tahun, terlihat dari rambut dan janggutnya yang sudah putih semua dan giginya yang hanya tinggal beberapa gelintir. Untuk sesaat Fanny merasa ngeri melihat ketujuh orang tua yang duduk di hadapannya itu. Tatapan mata mereka membuat Fanny merasa mereka bisa melihat menembus pakaiannya. Sorot mata mereka seperti sorot mata srigala lapar yang siap menerkam mangsanya. “Maaf Bapak-bapak.. ada perlu apa ya..?” tanya Fanny berusaha ramah, meskipun tubuhnya mulai gelisah. “Eh.. begini Neng.. kami ada perlu dengan Neng Fanny..” kata Pak Kades dangan nada canggung. “Dengan saya..?” Fanny heran. “Ada yang bisa saya bantu?” “Eh.. begini Neng Fanny..” Pak Kades Wirya berujar canggung, dia terlihat gelisah, terlihat dari gerakan-gerakan tangannya yang tidak teratur. “Sebelumnya saya minta maaf karena mengganggu Neng Fanny.” “Ada apa ya Pak..?” Agak canggung Fanny menanyakan maksud kedatangan mereka. Mereka tidak langsung menjawab melainkan saling tatap satu sama lain. “Saya datang ke sini sebetulnya ingin membicarakan masalah desa ini pada Neng Fanny..” Kata Pak Kades. “Kalau saya bisa Bantu, saya akan Bantu.” Fanny menjawab cepat. “Oh.. ya.. dan memang hanya Neng Fanny saja yang bisa membantu masalah desa ini,” kata Pak Kades dengan mata menatap liar ke arah Fanny, membuat Fanny merasa grogi dan takut. “Begini Neng, Neng Fanny tentu tahu kan, kalau desa ini memuja Dewi Kesuburan?” Tanya Pak Kades. Fanny hanya mengangguk saja, dia sudah tahu riwayat pemujaan dewi kesuburan ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. “Dan apakah Neng Fanny juga tahu kalau setahun sekali Dewi Kesuburan akan turun ke desa ini dalam wujudnya sebagai seorang wanita?” “Ya.. saya tahu,” kata Fanny sedikit jengkel. ”Tapi apa hubungannya semua itu dengan saya?” “Yah..” Pak Kades menghela nafas sesaat. “Perlu Neng Fanny tahu, berdasarkan perhitungan dan ramalan Dukun Desa, Dewi Kesuburan Desa ntuk tahun ini adalah.. Neng Fanny sendiri.” “Apa?” Fanny terkejut sesaat. “Tapi itu tidak mungkin..” dia tidak tahu maksud ucapan Pak Kades. Dia bahkan yakin Pak Kades baru saja bergurau. “Betul Neng,” Amar menyela “Neng Fanny lahir tanggal 8 Mei kan..? Dan Neng punya tahi lalat di paha kiri kan? Persis seperti yang sudah diramalkan.” “Dari mana Bapak tahu?” Fanny spontan bertanya. “Itu tidak penting, yang jelas sekarang Neng Fanny telah terpilih sebagai Dewi kesuburan.” tandasnya lagi. Fanny terdiam sesaat mencoba menerka maksud pembicaraan Pak Kades dan temannya, tapi dia sama sekali tidak menemukan apa-apa di kepalanya tentang dewi kesuburan ini. Baik..” Fanny mengalah. “Katakan saya bersedia, lalu apa yang harus saya lakukan sebagai Dewi Kesuburan ini?” Ketujuh orang itu langsung berubah ekspresi dari yang semula sopan mendadak berubah menyeringai memuakkan dan tertawa-tawa aneh begitu mendengar ucapan Fanny barusan. “Tugas anda.. yah.. Dewi Kesuburan bertugas untuk membagikan kesuburannya pada para penduduk desa. Dewi Kesuburan adalah lambang dari lahan yang siap ditanami oleh petani. Neng Fanny sebagai lahannya dan kami petaninya.” Seketika Fanny terperanjat mendengar tamsil yang diutarakan barusan. Kesuburan, lahan, petani, menanam benih, semuanya mendadak menjadi begitu jelas bagi Fanny. “Ma.. maksudnya saya akan dijadikan sebagi persembahan? Begitu?” Fanny tiba-tiba berteriak. Wajahnya seketika memerah karena marah dan malu. “Intinya, Neng Fanny harus merelakan kami menanamkan benih ke dalam tubuh Neng Fanny “ kata Pak Kades, datar. Seketika itu pula emosi Fanny, didorong oleh rasa malu dan muak, langsung meledak. “Tidak.. aku tidak mau!” Fanny membentak marah sambil menuding. “Dasar tua bangka tidak tahu diri! Keluar kalian! Busuk kalian semua!” Anehnya dibentak-bentak dan dicaci maki seperti itu tidak membuat ketujuh orang tua itu marah. Reaksi mereka justru berkebalikan. Mereka malah tertawa, seolah baru saja melihat sebuah pertunjukan lawak yang sangat lucu. “Kalau Neng Fanny tidak mau ya tidak apa-apa,” Pak Kades tersenyum sinis. “Tapi saya tidak menjamin keselamatan Neng Fanny dan rekan-rekan Neng Fanny kalau nantinya warga menjadi marah dan berbuat kekerasan pada Neng Fanny.” Fanny terperanjat mendengar ucapan Pak Kades. Kata-kata itu seperti vonis mati baginya yang langsung merontokkan ketegarannya. Seketika Fanny langsung terduduk lemas seolah tubuhnya tidak bertulang lagi. “Jadi bagaimana Neng Fanny?” Tanya Pak Kades.”Semuanya terserah Neng Fanny lho..” ujar Pak Kades datar, nyaris tanpa ekspresi. Fanny terdiam mendengar ucapan itu, rasa marah, malu dan jijik bercampur menjadi satu. Fanny tidak bisa membayangkan wanita yang terhormat seperti dirinya dijebak dan disudutkan dalam nasib yang sangat mengerikan bagi wanita. Dirinya tidak rela dicemari oleh orang-orang seperti mereka, tapi pada saat yang sama Fanny tahu dirinya tidak berdaya sama sekali. Dia sendirian di tempat ini, tidak ada satupun yang bisa menolongnya sekarang karena seluruh penduduk berada dalam satu pihak dengan ketujuh pemuka desa. Fanny berpikir keras mencari jalan keluar, tapi tampaknya semua buntu. Dia bisa saja melarikan diri, tapi mau lari kemana? Dia juga tidak tahu apa-apa tentang lingkungan di sekeliling desa yang sangat terisolir itu. Dan akhirnya Fanny mengambil keputusan. “Baiklah Pak.. saya bersedia..” Fanny menjawab lirih. Tanpa sadar sebutir air mata mengalir membasahi pipinya yang putih mulus. Ketujuh pemuka desa itu bergumam puas penuh kemenangan seolah baru saja memenangkan hadiah yang sangat besar nilainya. “Kalau begitu Mulai hari ini sampai nanti bulan purnama penuh Neng Fanny akan tinggal di tempat yang sudah kami sediakan.” Kata Pak Kades dengan nada suara yang ditekan, berusaha terdengar wajar untuk menyembunyikan kegembiraannya. Kemudian Fanny dibawa oleh ketujuh pemuka desa ke sebuah rumah adat di tepi hutan pinggiran desa,. Di rumah yang cukup mewah itu sudah disediakan berbagai fasilitas lengkap. Fanny diperlakukan bagai seorang ratu.sampai malam purnama penuh tiba. Dan pada malam yang sudah ditunggu-tunggu itu, Fanny dimandikan dengan air kembang yang sangat harum, tubuhnya dilulur sempurna sehingga kulitnya makin terlihat putih. Fanny juga didandani dengan bermacam perhiasan. Pergelangan tangannya dihiasi gelang emas sementara lehernya juga dilingkari kalung emas, pada dahinya terjuntai tiara emas yang dihiasi permata berwarna-warni. Akan tetapi pakaian yang dipakai Fanny sangat tidak masuk akal. Dia hanya memakai sehelai kain merah dan tipis yang diikat melingkari dadanya untuk menutupi payudaranya. Kain itu terlalu kecil dan terlalu tipis untuk bisa disebut penutup dada sehingga payudaranya yang putih terlihat menonjol sementara puting payudaranya terbayang dengan sangat jelas. Di pinggangnya terlilit kain yang dikencangkan dengan ikat pinggang emas, tapi meskipun kain itu menjuntai sampai mata kaki, kain itu terbuat Dari bahan yang sangat tipis dan tembus pandang sehingga memperlihatkan pinggul dan selangkangan Fanny yang hanya ditutupi oleh celana dalam model g-string berwarna merah. Dengan begitu pantatnya yang padat seperti tidak tertutup oleh apapun. Fanny kemudian dibawa menuju ke sebuah pendopo besar, sebuah ruangan yang hanya terdiri dari atap dan tiang-tiang besar penyangga tanpa dinding. Pendopo itu cukup besar, hampir mirip dengan aula. Tidak ada apa-apa di pendopo itu, kecuali sebuah ranjang besar berlapis kain ungu terang dengan keharuman yang luar biasa memabukkan asap berbau kemenyan wangi yang berasal dari anglo tanah yang dipasang di keempat penjuru ranjang. Ketujuh pemuka desa yang menjemput Fanny sekarang sudah berada di situ, mereka berdiri mengelilingi ranjang dengan masing masing memakai pakaian seperti jubah berwarna putih putih. Fanny terkesiap saat melihat ketujuh pemuka desa itu, tapi dia lebih kaget saat melihat ke arah luar pendopo, di situ sudah berkumpul hampir seluruh penduduk desa, dan kesemuanya adalah pria, semuanya bertelanjang dada, hanya memakai celana kolor panjang diikat oleh sabuk kulit besar. Fanny baru sadar kalau upacara Dewi Kesuburan hanya dihadiri oleh kaum pria. Sesaat Fanny merasakan tubuhnya menjadi kebas, membayangkan kejadian yang akan menimpanya. Fanny memejamkan mata dan menggeleng mencoba untuk mengusir ketakutannya, tapi dia tidak bisa. Kengerian luar biasa begitu kuat mencengkeramnya laksana tangan iblis yang menari-nari menghimpit seluruh tubuhnya. Belum lagi sadar dari cengkeraman kengerian, salah satu pemuka desa menuntun Fanny untuk maju menghadapi seluruh penduduk yang hadir. Wajah-wajah mereka menampakkan gairah yang ganjil ditimpa cahaya purnama. Penerangan obor dan lampu minyak di sekelilingnya membuat siluet mengerikan, seolah sepasukan hantu yang bergerak merayap mendekati dirinya. Smentara itu Ki Wongso yang Fanny kemudian tahu adalah dukun desa mulai beranjak berdiri di sampingnya. “Wahai penduduk desa,” Ki Wongso berteriak lantang, membuat penduduk desa serentak menatap ke arahnya. “Malam ini adalah malam purnama ke lima, dimana malam ini adalah saat Dewi Kesuburan turun ke bumi.” Kata Ki Wongso masih dengan lantang. “Karena itulah malam ini, kupersembahkan gadis ini bagi Sang Dewi.” Serentak penduduk desa berteriak lantang. “Terimalah persembahan kami.” Teriakan itu diucapkan berulang berkali-kali dan menggema di segala penjuru. Suaranya bersahutan dan terdengar mengerikan. Fanny seperti mendengar lagu kematian yang dinyanyikan untuknya. Sementara itu Ki Wongso terlihat berkomat-kamit sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Suaranya seperti lebah berdengung.Sementara terlihat Amar yang dikenal sebagai tangan kanan sang dukun maju sambil membawa sebuah bokor tembaga. “Di dalam bokor itu terdapat perlambang dari apa yang harus kami tanam tahun ini.” kata Ki Wongso. “Setiap perlambang juga melambangkan salah satu dari kami. Dan sekarang tugas Neng Fanny untuk menentukan perlambang apa yang keluar tahun ini.” Fanny yang sudah dicekam kengerian hanya berdiri di tempatnya. Kengerian yang menyelimutinya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ki Wongso yang tidak sabar mendorong punggung Fanny dan memaksa tangan Fanny untuk mengambil benda di dalam bokor. Fanny dengan keterpaksaan yang luar biasa, mengambil benda yang terbuat dari kepinga tembaga dari dalam bokor. Fanny tidak tahu apa artinya benda itu, dia bahkan tidak berani melihatnya. Ki Wongso kemudian mengambil perlambang itu dari tangan Fanny. “Tujuh..” Ki Wongso mendesis sambil menyeringai. “Sebuah pertanda yang sangat baik.” katanya, disambut tawa seluruh pemuka desa. “Neng Fanny telah memilih tujuh, itu berarti ketujuh pemimpin desalah yang akan menanamkan benih di tubuh sang dewi.” Fanny terkesiap pucat mendengar ucapan Ki Wongso. “Tidak Pak.. tidak mungkin..” Fanny mulai menangis, ucapan itu berarti dirinya harus merelakan dirinya disetubuhi oleh ketujuh pemuka desa itu secara sekaligus. “Jangan Pak.. saya tidak mau..” Fanny tersedak sambil terisak tubuhnya serasa mati dengan vonis yang baru saja diterimanya, dia merasa diperlakukan lebih rendah dari pelacur yang paling hina. Dan entah mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba Fanny berontak dan berusaha lari. “Tangkap dia!” perintah Ki Wongso. Amar yang paling dekat dengan Fanny, dengan kesigapan seperti seekor harimau, merendahkan badannya sambil kakinya terjulur mengait pergelangan kaki Fanny. Fanny langsung terjungkal dan tertelungkup di lantai tanah. Serentak tiga orang langsung menagkapnya dan menelikung tangannya kec belakang. “Lepaskan!” Fanny berteriak-teriak sambil meronta-ronta mencoba membebaskan diri, tapi dia hanya seorang wanita, menghadapi tiga orang pria yang menangkapnya jelas dirinya tidak mampu berbuat banyak. “Percuma Neng lari. Kami pasti dengan mudah bisa menangkap Neng Fanny lagi.” kata Ki Wongso kalem dengan wajah menyeringai di hadapan Fanny. Fanny dengan wajah basah oleh air mata hanya menggeleng ketakutan.Ki Wongso kemudian menjulurkan tangannya dan menekan bagian belakang lehernya dengan satu pijatan kuat. Seperti ada satu aliran listrik mengalir dari tangan Ki Wongso menyengat lehernya. Sesaat kemudian Fanny merasa tubuhnya seperti lemas tanpa daya. Karena itulah dia tidak berontak lagi saat dirinya ditarik dan dibawa ke atas ranjang. Di atas ranjang Fanny merasakan tubuhnya seolah begitu ringan seperti melayang. apakah itu pengaruh pijatan Ki Wongso di lehernya ataukah karena bau kemenyan yang begitu kental, Fanny tidak tahu, yang jelas Fanny sekarang seperti tidak punya daya apa-apa. Seolah dirinya sudah siap diperlakukan apa saja oleh siapa saja. “Upacara segera dimulai..” kata Ki Wongso ada para penduduk. Serentak semua yang hadir di situ berdiri mendekat dan membentuk lingkaran besar yang berpusat pada ranjang tempat Fanny terbaring, sehingga apapun yang dilakukan di atas ranjang itu, semua penduduk akan bisa menyaksikannya dengan jelas. Mereka lantas melihat Ki Wongso berdiri di samping ranjang. Direbahkannya tubuh Fanny dengan posisi terlentang di atas ranjang lalu diaturnya posisi tangan dan kaki Fanny sehingga membuka ke samping seperti burung yang merentangkan sayapnya. Lalu perlahan dilepaskannya kain tipis yang melilit di pinggang Fanny sehingga hanya tersisa penutup dada dan celana dalem merah yang melekat di tubuh Fanny. Kemudian tangan Ki Wongso mulai menari-nari di atas tubuh Fanny yang mulus itu, dan dengan satu kali sentakan, kain yang menutupi payudara Fanny langsung terlepas, membuat payudara Fanny yang liat, putih dan mulus langsung mencuat telanjang, diiringai suara tertahan para penduduk yang menyaksikannya. Kemudian tangan Ki Wongso mulai menari di bagian pinggul Fanny. Perlahan ditariknya pinggiran celana dalam Fanny, lalu celana dalam itu ditariknya sampai lepas dari selangkangan Fanny dan akhirnya terlepas dari tubuhnya. Fanny sekarang terbaring dalam keadaaan telanjang bulat di atas ranjang, menjadi bahan tontonan penduduk dan pemuka desa. Kemudian Ki Wongso menyuruh empat orang memegangi kaki dan tangan Fanny dan merentangkannya ke samping sehingga tubuh bugil Fanny membentuk huruf X. Melihat tubuh mulus dan telanjang itu terentang tanpa daya, Ki Wongso mulai melepaskan jubah putihnya, hingga hanya tersisa celana kolor saja. Dia lalu menaiki ranjang dan berlutut di depan Fanny. “Ck-ck-ck…benar-benar tubuh yang sempurna, putih mulus tanpa cacat,” ujar Ki Wongso, kemudian Ki Wongso mulai mendekatkan tubuhnya pada tubuh Fanny. Semakin pria itu mendekat semakin kencang pula jantung Fanny berdebar, wajahnya memerah menahan malu sambil menggigit bibir bawah. “Ohh.. ini payudara terindah yang pernah Bapak lihat, Bapak pegang dikit ya.” Pinta Ki Wongso sambil menaruh tangannya di payudaranya. “Ahh....” Fanny mendesis merasakan perasaan aneh karena belaian pada payudaranya, jari-jari pria itu juga memencet putingnya sehingga seperti bulu kuduknya berdiri semua. “Eengghh..!” desisnya lebih keras ketika tangan Ki Wongso mulai meremas payudaranya. Ditekan-tekannya sepasang payudara mulus itu sambil sesekali membetot payudara itu dengan lembut. Hal itu membuat Fanny emndesah kecil, tubuhnya mendadak menegang, seperti ada sengatan listrik dari tangan Ki Wongso setiap kali tangan itu menyentuh payudaranya. Ki Wongso kemudian mulai menjilati puting payudara Fanny dengan lidahnya. Ujung lidahnya kadang menyentil-nyentil ujung puting payudara itu, sesekali Ki Wongso mengulum dan mengenyot payudara Fanny, sehingga orang tua itu terlihat seperti bayi yang sedang disusui oeh ibunya. Fanny merasakan sentuhan tangan itu seperti membangkitkan monster birahi yang tidur di dalam tubuhnya. Seketika Fanny merasa tubuhnya seperti meremang, dia bergerak dengan gelisah dam neggelinjang tak terkendali. Sesekali kakinya menggeliat kecil seperti menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam tubuhnya. “Ahhhh..... Ohhhhh..........” Fanny mulai mengeluarkan desahan-desahan tertahan, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terhanyut dalam dorongan birahinya, tapi pada saat yang bersamaan, dorongan itu begitu kuat membetot setiap simpul syarafnya membuatnya terlena. Ki Wongso tahu Fanny sudah mulai terangsang karena itu dia makin gencar melakukan serangan di setiap jengkal kemulusan tubuh Fanny. Kemudian lidah Ki Wongso menyusuri perut Fanny yang rata, terus ke bawah dan ketika sampai di daerah selangkangan Fanny Ki Wongso lalu merangkul pinggang ramping itu membawa tubuhnya lebih mendekat. Paha mulus itu lalu dia ciumi inci demi inci sementara tangannya mengelusi paha yang lain. Fanny merinding merasakan sapuan lidah dan dengusan nafas pria itu pada kulit pahanya membuat gejolak birahinya makin naik. “Ssshhh…!” sebuah desisan keluar dari mulutnya ketika jari Ki Wongso menyentuh bagian vaginanya. “Aahhh… aahhh… jangan !” Fanny mendesah antara menolak dan menikmati saat lidah Ki Wongso menelusuri gundukan bukit kemaluannya. Tanpa disadari kakinya melebar sehingga memberi ruang lebih luas bagi Ki Wongso untuk menjilatinya. Tubuh Fanny seperti kesetrum ketika lidah Ki Wongso yang hangat membelah bibir kemaluannya memasuki liangnya serta menari-nari di dalamnya. Fanny semakin tak kuasa menahan kenikmatan itu, dia bergerak tak karuan akibat jilatan Ki Wongso sehingga Ki Wongso harus memegangi tubuhnya. “Ahhhh…ahhh…oohh !” desahnya dengan tubuh bergetar merasakan lidah Ki Wongso memainkan klitorisnya. Sementara semua mata yang menyaksikan permainan tersebut menahan nafas dan gejolak birahi mereka menyaksikan betapa tubuh yang begitu putih, mulus dan sexy milik Fanny dalam keadaan telanjang bulat sedang digeluti oleh seorang tua renta seperti Ki Wongso. Beberapa diantara mereka yang tidak tahan bahkan mulai melakukan masturbasi dengan mengocok penisnya sendiri. Fanny sendiri semula merasa malu tubuhnya yang bugil dijadikan tontonan begitu banyak orang, sekali-kalinya dia pernah telanjang dihadapan pria adalah saat bersama pacarnya, tapi pengaruh yang ditanamkan oleh Ki wongso terlanjur mencengkeram tubuhnya sangat kuat, membuat otaknya menjadi buntu, Fanny sekarang hanya bertindak berdasarkan naluri seksualnya semata. Tidak tahan dengan serangan-serangan Ki Wongso pada daerah sensitifnya, tubuh Fanny mendadak meregang kuat, membuat empat orang yang memegangi tangan dan kakinya harus menarik kedua belah tangan dan kaki Fanny lebih kuat. Desakan dari dalam tubuhnya ditambah tarikan pada kaki dan tangannya membuat tubuh Fanny menghentak kuat di ranjang, tubuh Fanny kemudian melengkung ke atas seperti busur yang ditarik membuat payudaranya yang membukit itu makin tegak menantang. “Ohhhkkhhhhhhhhhhhhh.... Aaaaaahhhhhh....” fanny mengejang dan mengerang keras dengan tangan dan kaki menggelepar. Dari vaginanya mengucur cairan bening, Rangsangan Ki Wongso rupanya berhasil membuat tubuh Fanny orgasme dengan begitu kuat. Tubuh Fanny menegang sesaat sebelum kembali melemas. Fanny terkapar dambil terengah-engah. Orgasme yang dialaminya begitu kuat membuat sekujur tubuhnya bermandi keringat. Ki Wongso yang sudah bangkit pula birahinya melepaskan celana kolrnya sampai bugil. Dipermainkannya penisnya di hadapan Fanny. Dia menyuruh keempat orang yang memegangi tangan dan kaki Fany untuk melepaskannya. Keempat orang itu mundur selangkah. Ki Wongso perlahan mulai menempatkan tubuhnya di atas tubuh mulus Fanny.Tangan Ki Wongso bergerak menggenggam jari-jari lentik Fanny sehingga jari-jari mereka saling menyatu dan saling mencengkeram. “Nah,sekarang kita mulai ya Neng..” kata Ki Wongso sambil bendaratkan sebuah ciuman di bibir Fanny dan melumat bibir lembut itu berulang-ulang. Fanny hanya menggeleng lemah sambil menangis, tapi Ki Wongso yang sudah terangsang berat tidak mempedulikan penolakan Fanny. Perlahan ditindihnya tubuh bugil Fanny yang putih mulus itu. Lalu pelan-pelan Ki Wongso menekan penisnya ke liang vagina Fanny. “Sshhh…sakit, aahhh…!!” Fanny mengerang lirih ketika penis Ki Wongso yang besar itu menerobos vaginanya. Fanny meringis dan merintih menahan rasa sakit pada vaginanya, meskipun sudah tidak perawan lagi karena sudah beberapa kali melakukan hubungan seks dengan pacarnya, tapi kemaluannya masih sempit. Ki Wongso harus berusaha keras untuk bisa memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh, vagina Fanny melawan dengan liat membuat Ki Wongso makin bernafsu mendorongkan penisnya. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh penis itu ke vaginanya, saat itu airmata Fanny meleleh lagi merasakan sakit pada vaginanya. “Huhh…masuk juga akhirnya, tempiknya Neng seret banget.” katanya dekat telinga Fanny. Fanny hanya menangis ketika merasakan penis Ki Wongso dirasakan memenuhi vaginanya. Sesaat kemudian, Ki Wongso sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat. Fanny yang sebelumnya sudah mengalami orgasme benar-benar tidak kuasa menahan erangan setiap kali Ki Wongso penis Ki Wongso menghujam vaginanya. Gesekan demi gesekan yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh Fanny . “Ohhh... aahhh... oohhh... aahhh..” Fanny mendesah-desah penuh kenikmatan setiap kali penis Ki Wongso menghentak vaginanya, gerakan Ki Wongso sendiri tidak teratur dalam menggenjot vagina Fanny, kadang pelan dan lembut, kadang begitu kasar dan cepat, tapi gerakan-gerakan liar dan tidak teratur itu justru membuat Fanny merasa makin cepat merasakan orgasmenya mendekat. Ki Wongso meningkatkan tempo goyangannya, penis yang besar dan berurat itu menggesek dan menekan klitoris Fanny ke dalam setiap kali menghujam vaginanya. Kedua payudaranya yang membusung tegak itu ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya. Ki Wongso meraih kedua payudara Fanny dan meremasnya dengan gemas. Sementara Fanny sekarang sudah sepenuhnya dikuasai oleh dorongan seksualnya, setiap genjotan penis Ki Wongso pada vaginanya membuatnya tersentak dan mengeluarkan desahan penuh kenikmatan, dia merasakan kenikmatan yang berbeda dari yang pernah didapatkan dari pacarnya, tanpa disadari dia juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Ki Wongso. Hebatnya meskipun sudah sangat tua, tapi kemampuan Ki Wongso dalam melakukan persetubuhan ternyata sangat hebat, mungkin sebelumnya Ki Wongso sudah meminum jamu khusus sehingga membuat tahan lama, selama lebih dari limabelas menit Ki Wongso menggenjot tubuh Fanny, tapi belum ada tanda-tanda kalau dia akan selesai. Fanny yang sudah sedemikian terangsang hanya bisa melenguh dan mendesah-desah merasakan sensasinya yang setiap saat siap meledak. Dan beberapa saat kemudian tubuh Fanny kembali mengejang, tangannya yang menggengam tangan Ki Wongso menekan jari-jari keriput itu dengan kuat. “Ohhhhkkhhhhh... Aahhhhhhhhh..!!!” Fanny mengerang keras, wajahnya merah padam, tubuhnya mengejang dan bergetar dengan kuat seolah akan melemparkan Ki Wongso dari atas tubuhnya. Sekali lagi Fanny mengalami orgasme. Ki Wongso berusaha menahan agar tidak buru-buru ejakulasi, dia menghentikan gerakannya dan membiarkan Fanny bergerak liar. Seluruh tubuh Ki Wongso juga menegang, bedanya, Ki Wongso sedang berusaha menahan ejakulasinya agar spermanya tidak buru-buru dimuntahkan. Ki Wongso pelan-pelan merasakan tubuh Fanny kembali melemas, kemudian dia mendekap tubuh mulus itu dankembali melanjutkan genjotannya di vagina Fanny. Kali ini gerakannya lebih cepat dari sebelumnya bahkan cenderung kasar. Fanny merasakan tubuhnya sampai terbanting-banting menahan hentakan demi hentakan pada bagian bawah tubuhnya. Erangan-erangan Fanny semakin keras, badan dan kepala semakin bergoyang-goyang tidak beraturan menahan nikmat di dalam vaginanya. Kadang kala Fanny dan Ki Wongso terlibat dalam ciuman-ciuman lembut, beberapa kali bibir Fanny yang lembut itu dikulum oleh bibir Ki Wongso seolah dilekatkan oleh lem yang sangat kuat, Mata Fanny sudah sayu dan merem melek menerima kenikmatan yang rasanya tidak ada akhirnya. Badannya bergoyang erotis mengikuti setiap genjotan penis Ki Wongso pada vaginanya. Terlihat sekali Fanny sedang menikmati permainan tersebut, Fanny menjadi tidak peduli dengan sekelilingnya. Fanny sudah tidak mempedulikan lagi persetubuhannya dijadikan tontonan begitu banyak orang. Fanny sudah tidak mempedulikan lagi sorak-sorak para penduduk yang ikut menikmati adegan persetubuhannya dengan Ki Wongso. Fanny sudah sepenuhnya dikuasai oleh nafsu birahinya yang kian lama kian memuncak. Fanny menggelinjang liar dan erotis, tubuhnya dibiarkan mengikuti apa mau laki-laki tua yang sedang menyetubuhinya. Desahan dan erangannya makin liar dan meracau. Namun sekali ini laki-laki tua yang sudah sangat pengalaman itu tidak membiarkan Fanny untuk orgasme. “Ammmpunn..egggghhh.......” erang Fanny keras mengharap orgasmenya segera datang, namun harapannya tinggal harapan, karena Ki Wongso masih ingin mempermainkan Fanny dalam waktu yang lama. Tubuh Fanny sampai mengejang-ngejang setiap kali gagal mengalami orgasme. Baru setelah lebih dari satu jam, Ki Wongso melepaskan Fanny. Seketika orgasmenya meledak dengan begitu kuat membuat tubuh Fanny melengkung mengangkat tubuh Ki Wongso yang menindihnya, kakinya menyepak-nyepak ke segala arah. Erangan yang begitu keras meluncur dari bibirnya. “AAAAAAAHHHHHKKKKHHHH... OOOHHHHH...!!!!!” Fanny menumpahkan segenap tenaganya untuk meledakkan orgasmenya yang seolah menghancurkan tubuhnya dari dalam. Vaginanya sedemikian kuat mencengkeram penis Ki Wongso membuatnya seperti dibetot oleh tangan yang begitu kuat. Ki Wongso akhirnya tidak tahan lagi. Dengan satu dorongan keras, dilesakkannya penisnya dalam-dalam ke vagina Fanny. “Ahhkk...” Ki Wongso mengejang tertahan, seketika spermanya menyembur membanjiri rahim Fanny. Setelah itu keduanya kembali lemas dan saling bertumpuk. Fanny membiarkan saja tubuh Ki Wongso menindih tubuhnya. Ki Wongso untuk terakhir kalinya meresapi kenikmatan tubuh Fanny dengan memeluk tubuh lembut itu, merasakan kehangatannya saat tubuh putih mulus itu menyatu dengan tubuhnya sambil sesekali mencium bibir Fanny. Setalah Ki Wongso selesai melepaskan hasrat seksualnya, sekarang giliran Pak Kades Wirya yang akan menyetubuhi Fanny. Pak Kades yang telah telanjang bulat itu lalu menarik pinggang Fanny dan membalikkan tubuhnya, kemudian ditariknya pinggang Fanny sehingga posisi pinggang Fanny lebih tinggi dari kepalanya yang menyentuh ranjang sehingga payudara Fanny menekan ranjang dan Fanny dalam posisi menungging, kemudian Pak kades mulai melesakkan penisnya ke dalam vagina Fanny dan mulai menggenjotnya dengan kuat. Pak Kades sudah terangsang saat menyaksikan adegan persetubuhan Fanny dengan Ki Wongso merasa tidak perlu lagi pemanasan, gerakan penis Pak Kades pada vagina Fanny makin lama makin kasar sehingga Fanny menjerit-jerit dan melolong histeris, batang kemaluan Pak Kades yang berukuran besar itu mengaduk-aduk liang kemaluan Fanny yang semakin lama semakin lemas. Fanny Tidak puas dengan gaya anjing, pak Kades membimbing Fanny untuk melakuakn gaya lain, dia duduk di atas ranjang sementara Fanny di atas pangkuannya dengan paha mengangkang dan posisi berhadapan. Dengan posisi duduk, buah dada Fanny tampak sangat menggairahkan, apalagi dengan tubuhnya yang ramping, tampak buah dadanya tergantung indah, padat dan berisi. Sambil menyetubuhi Fanny Pak Kades juga meremas-remas kedua belah payudara Fanny dengan bernafsu, kadang ia mendempetkan kedua buah dada itu lekat-lekat sehingga belahan payudara Fanny terbentuk indah di hadapannya. Semantara Fanny hanya dapat merintih-rintih dalam keadaan antara sadar dan tidak. Sambil terus memompa Fanny, ia tertawa-tawa disaksikan teman-temannya yang tidak sabar menanti giliran, sesekali Pak Kades juga mengulum bibir Fanny dengan gemas seolah ingin menggigit bibir mungil itu kuat-kuat. Fanny benar-benar tidak berdaya, dia hanya mengikuti naluri seksualnya tanpa mempedulikan apapun lagi, karena itu ketika Pak Kades berhenti memompa Fanny, secara refleks Fanny melenguh dan mulai menggerak-gerakan pantatnya sendiri agar tetap dikocok oleh kemaluan pak Kades yang terasa sesak di vaginanya. "Ehh.. Neng Fanny seneng ngentot juga rupanya,” Pak Kades tertawa mengejek di tengah lenguhannya. Pak kades tertawa sambil memeluk tubuh Fanny, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus Fanny sementara buah dada Fanny yang kenyal terjepit di dadanya yang berbulu. Rupanya Fanny mendengar perkataan itu, wajah Fanny tampak memerah karena malu dan marah, lalu tubuhnya diam tak bereaksi, Tapi Pak Kades tidak tinggal diam, dia terus-menerus merangsang Fanny agar tetap berada dalam kendalinya. Pak Kades mencengkeram kuat-kuat kedua buah dada Fanny. Lalu dengan gerakan memutar, diremasnya payudara mulus itu dengan keras sehingga Fanny merintih-rintih antara sakit dan nikmat, sesekali pak Kades kembali menghentikan pompaannya, dan secara refleks kembali Fanny ganti menggoyangkan pantatnya maju mundur, selama beberapa saat hingga Fanny sadar dan dapat mengendalikan tubuhnya. Hal itu terjadi berkali-kali, bahkan saat pemuda itu mendorong tubuh Fanny hingga batang kemaluannya keluar dari liang kemaluan Fanny. Secara refleks diluar kemauan Fanny sendiri tubuh Fanny kembali merapat sehingga batang kemaluan itu kembali terbenam ke dalam liang vaginanya sambil kaki Fanny melipat erat seolah-olah takut lepas. Pak Kades semakin lama tampak semakin ganas memperkosa Fanny, hingga selang beberapa saat tampak tubuh Fanny berkelonjotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas Fanny tak teratur sambil terus merintih keras dan panjang. Pak Kades semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya membuat Fanny merintih panjang. "Oooooohhhkkkkhh... " seluruh tubuh Fanny menegang dan menggelinjang selama beberapa detik dan aku sadar bahwa Fanny sedang mengalami orgasme dahsyat dan kenikmatan luar biasa. Setelah berkelonjotan sesaat, tubuh Fanny tumbang dengan lemas di pelukan Pak Kades yang masih terus memompa Fanny yang telah lemas sambil tertawa senang. “Gimana rasanya Neng? Ngomong dong..” kata Pak Kades sambil terus menydok-nyodokkan penisnya di vagina Fanny. “Nikmaaatt eegg... .nikmaatt... ... ennaaakkk... .” jawab Fanny sambil membiarkan kedua puting payudaranya dijilat dan digigit kecil oleh Pak Kades. “Neng Fanny nggak apa-apa kan kalau Bapak menghamili Neng Fanny..?” sebuah pertanyaan aneh meluncur dari mulut pak Kades. Dalam keadaan normal Fanny tantu akan marah mendengarnya, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, otaknya sudah tidak mampu berpikir dengan jernih. Fanny mengangguk-anggukkan kepalanya begitu saja. “Mau Paak..! Silakan bikin Fanny hamil.. Fanny mau dihamili sama Bapakk.. eeeggghhhhh... .aagghhhhh....” jawab Fanny. Pak kades tersenyum puas mendengar hal itu, dia membayangkan bagaimana mendapat anak dari seorang wanita cantik dan terpelajar seperti Fanny, hal itu membuatnya makin bersemangat menyetubuhi Fanny. Sampai setengah jam kemudian, setelah Fanny mengalami orgasme untuk kelima kalinya, Pak Kades melenguh dan menyemburkan spermanya ke dalam rahim Fanny. Giliran ketiga adalah Pak Jamal. Tuan tanah yang gemuk itu sudah sedri tadi bertelanjang bulat sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. Begitu sampai gilirannya, dia menarik Fanny yang terbaring memaksa Fanny untuk meneggakkan badan. Kemudian dia menyodorkan penisnya ke wajah Fanny. “Ayo Neng, sekarang Neng harus ngocokin punya Bapak.” Katanya sambil menyorongkan penisnya. “Neng doyan ngocok kan..?” Fanny hanya diam saja, tubhnya masih belum sepenhuhnya pulih dari orgasme, karena itu dia hanya menurut saja perintah Pak Jamal, segera dilingkarkannya jeri-jari tangannya yang lentik ke penis Pak Jamal, penis itu terasa penuh dalam genggaman Fanny. Kemudian dengan gerakan lembut, fanny mulai mengocok penis itu naik turun, semula gerakannya pelan, tapi lama lama makin cepat. Pak Jamal merasakan sensasi yang berbeda pada kocokan tangan Fanny yang lembut dibandingkan dengan tangannya sendiri. “Ohh.. emhh... yeahh... ohhh.. teruss neng.. Kocokannya Neng memang mantap.. ahhh..” Pak Jamal mulai mengerang-erang menikmati permainan jari lentik Fanny pada penisnya. “Kocokan gadis cantik memang beda..” kata Pak Jamal sambil membelai-belai rambut Fanny. Perlahan tangannya menyusur turun menyentuh payudara Fanny dan mulai meremasinya penuh nafsu. Sentuhan dan remasan tangan Pak Jamal pada payudaranya membuat Fanny kembali terangsang gairahnya, dia makin bersemangat mengocok-ngocok penis besar dan hitam itu. “Sekarang masukin ke mulutnya Neng Fanny..” perintah Pak Jamal. Fanny yang sudah mulai terbangkitkan gairahnya tidak malu-malu lagi. Diapun mulai memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. Pak Jamal mendesah merasakan kehangatan mulut Fanny, sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya. “Eeenngghh…aahh…aahh !” terdengar desahan Pak Jamal saat penisnya sedang dikenyot-kenyot oleh Fanny. Sesekali Fanny mengeluarkan penis itu dari mulutnya untuk dikocoknya pelan, kemudian dikulumnya lagi. Penis itu semakin mengeras dan berkedut-kedut di dalam mulut Fanny. Penis yang besar mengerikan itu tidak muat seluruhnya ke dalam mulutnya yang mungil, maka sesekali Pak Jamal menekan kepalanya agar bisa masuk lebih dalam lagi. “Lagi Neng, kurang masuk... aahhh…” demikian katanya sambil mulai mendorong-dorongkan pantatnya sehingga penisnya makin menekan mulut Fanny. “Aggh..aggh... .” suara Fanny terdengar tersedak oleh penis Pak Jamal. Tangan Fanny berusaha menahan pinggul Pak Jamal agar Pak Jamal tidak bisa memompa penisnya ke dalam mulut Fanny. Melihat itu, Pak Hasan yang rupanya sudah tidak tahan lagi dengan sigap bangkit dari tempatnya dan berlutut di belakang punggung Fanny. “Sini Pak.. saya bantuin biar Neng cantik ini cepat menurut..” ujar Pak Hasan kepada Pak Jamal, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Pak Jamal. Pak Hasan yang ada di belakang Fanny mulai menuyusupkan tangannnya ke bawah ketiak Fanny, tangan itu kemudian meraba-raba payudara Fanny dengan lembut, kemudian payudra Fanny mulai diremas-remas dan diputar-putar oleh Pak Hasan, sesakali Pak Hasan juga mencubiti kedua puting susunya dan menarik-narik puting payudara Fanny dengan jari-jari kasarnya. Diperlakukan seperti itu, dimana Pak Jamal memompa paksa penisnya yang besar ke dalam mulut Fanny dan jari-jari Pak Hasan dengan lihainya mempermainkan kedua belah payudaranya, terlihat reaksi Fanny mulai berubah, dari yang tadinya tegang dan meronta-ronta, sekarang mulai rileks dan merima perlakuan Pak Jamal dan Pak Hasan terhadap tubuhnya yang mulus itu. Fanny mulai membuka mulutnya menyesuaikan dengan lingkar penis Pak Jamal yang sangat besar itu. Rupanya diperlakukan kasar oleh Pak Jamal dan Pak Hasan memberikan rangsangan tersendiri buat Fanny. Yang dirasakan oleh Fanny sekarang hanyalah rangsangan hebat pada sekujur tubuhnya, rasa nikmat pada vaginanya dan rasa ingin bersetubuh lagi. Tubuh Fanny mulai mengikuti gerakan Pak Jamal dan Pak Hasan, dan kepalanya tidak lagi harus dipaksa dan dipegangi oleh Pak Jamal. Sekarang malah Fanny dengan sukarela mengulum penis Pak Jamal yang besar dan menggerakkan kepalanya maju mundur melahap penis Pak Jamal. Beberapa menit kemudian Pak Jamal menghentikan pompaan penisnya pada mulut Fanny, Pak Hasan yang ada di belakang Fanny menarik tubuh Fanny dan membaringkannya terlentang di ranjang, Pak Jamal kemudian membuka kaki Fanny lebar-lebar, sehingga posisi Fanny telentang di atas karpet dengan kaki mengangkang lebar. Semua yang hadir terkagum-kagum melihat Fanny yang sangat cantik siap untuk disetubuhi. Pak Jamal kemudian langsung menindih tubuh Fanny sambil mengarahkan penisnya yang besar itu ke vagina Fanny. “Aagghh... ” erang Fanny ketika penis besar Pak Jamal mulai memasuki vaginanya. Pak Jamal dengan kasar langsung memasukkan penisnya sampai mentok ke dalam vagina Fanny yang sudah basah itu. Karena besarnya diameter penis Pak Jamal, vagina Fanny terlihat tertarik dan penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Pak Jamal. Pak Jamal mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk vagina Fanny. Fanny yang belum pernah vaginanya dipompa oleh penis sebesar penis Pak Jamal hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. “Aaahhhh... ooohhhh... aaahhh... oohhhh...” Fanny mendesah-desah setiap kali Pak Jamal menggenjot vaginanya sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas kain seprei. Pak Jamal semakin cepat memompa vagina Fanny dengan penisnya. Fanny tanpa sadar mengakkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggang Pak Jamal memberikan kesempatan kepada Pak Jamal untuk terus memompa vaginanya dengan lebih cepat lagi. “Aaahh...... oohhh... .” Fanny mulai meracau dengan mata tertutup dan tangannya semakin keras meremas-remas kain seprei. Semua mata yang menonton setiap adegan persetubuhan antara Fanny dan Pak Jamal melotot dan terangsang hebat melihat bagaimana seorang pria setengah baya dengan perut buncit sedang menyetubuhi seorang wanita muda yang sangat cantik. Setelah 10 menit disetubuhi Pak Jamal, tiba-tiba badan Fanny mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Pak Jamal, tangannya memeluk erat leher Pak Jamal dan badannya terangkat cukup tinggi. “AAAAGGHHH... ... .” erang Fanny mencapai orgasme yang sangat tinggi. Kemudian badan Fanny melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Pak Jamal, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Pak Jamal jatuh ke karpet, vagina Fanny yang tersumpal rapat oleh penis Pak Jamal terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi kain seprei. Tapi Pak Jamal belum mau cepat-cepat menyelesaikan kesenangannya. Masih dengan tubuhnya menyatu dengan tubuh mulus Fanny, Pak Jamal mendekap tubuh mulus itu dan berguling sehingga posisinya sekarang bertukar, tubuh putih Fanny sekarang berada di atas tubuh Pak Jamal dengan posisi agak melengukng karena perut Fanny tertekan oleh perut Pak Jamal yang buncit. Dengan posisi seperti itu, Pak Jamal memegang pinggang Fanny dengan kedua tangannya, lalu memaksa Fanny untuk bergerak sehingga penisnya yang masih membenam di dalam vagina Fanny kembali terkocok. Semula Fanny hanya mengikuti tarikan dan dorongan tangan Pak Jamal, tapi lama-lama, Fanny yang sudah terangsang hebat mulai menggerakkan tubuhnya sendiri sehingga saat Pak Jamal menghentikan gerakannya, secara refleks Fanny melenguh dan mulai menggerak-gerakan pantatnya sendiri agar vaginanya tetap dikocok oleh kemaluan Pak Jamal. "Hehehehe...Neng memang gadis pintar..” Pak Jamal tertawa sambil memeluk tubuh Fanny, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus Fanny. Fanny tidak mempedulikan ejekan Pak Jamal. Dia terus menggerkakan pantatnya naik turun memompa penis Pak Jamal pada vaginanya. Mendadak Pak Hasan maju mendekat. Dipegangnya pantat Fanny sambil sesekali diremasnya bongkahan pantat yang mulus itu. “Nggak keberatan kan Pak Jamal kalau saya ikutan?” tanya Pak Hasan sambil sibuk meremasi pantat sekal Fanny. “Ohh.. tentu tidak Pak Hasan..” kata Pak Jamal di tengah usahanya menggagahi Fanny. Fanny terkejut ketika tangan kasar Pak Hasan membuka celah pantatnya. Sesaat kesadarannya pulih. “jangan paakk.. ampuun.. jangan di situ..” Fanny menggeliat mencoba berontak, tapi tangan Pak Jamal segera mendekapnya dengan erat membuatnya tidak bisa bergerak dalam pelukan Pak Jamal. “Nah... sekarang Bapak mau nyobain lubang pantatnya gadis kota..” sahut Pak Hasan sambil terkekeh-kekeh. “Jangan Paak......” tangis Fanny mulai pecah lagi, dia tersedu-sedu merasakan tangan Pak Hasan pada pantatnya. Pak Jamal tidak membiarkan Fanny berontak, dekapannya makin erat membuat Fanny terhimpit oleh dua pria sekaligus. Pak Jamal merentangkan kedua paha Fanny sampai terbuka lebar-lebar, “Jangan... jangan... .” tangis Fanny semakin keras. Seakan-akan tidak mendengarkan tangisan Fanny, kemudian Pak Hasan memegang kedua bongkahan pantat Fanny dan menguakkannya ke hadapan Pak Hasan. Tarikan Pak Hasan pada pantat Fanny itu mengakibatkan lubang pantat Fanny menjadi terlihat dan sedikit terbuka seakan-akan siap menerima penis Pak Hasan yang besar. “AAAHHHKKHHH....” Tiba-tiba terdengar jeritan Fanny. Rupanya Pak Hasan mulai memasukkan penisnya yang besar ke dalam lubang pantat Fanny. “Jangaaan... ampuun... saaaakiiittt..” teriak Fanny ketika secara perlahan tapi pasti penis Pak Hasan masuk ke dalam lubang pantatnya. “Uhhh... masih seret dan sempit nih..” kata Pak Hasan ketika seluruh penisnya sudah masuk ke dalam lubang pantat Fanny. Pak Hasan kemudian mengangkat pantat Fanny sedikitsehingga sekarang posisi Fanny makin menungging, di lubang pantatnya terbenam seluruh penis Pak Hasan yang besar. Untuk sesaat tidak ada pergerakan baik dari Pak Hasan, Fanny maupun Pak Jamal, mereka seakan-akan sedang berpose dalam posisi seperti itu. Rupanya Pak Hasan sedang memberikan waktu supaya Fanny terbiasa dengan keadaan dimana penis Pak Hasan yang besar didalam lubang pantat Fanny dan penis Pak Jamal berada di vaginanya. “Aaagg... aaggghhh... ” jerit pelan Fanny ketika Pak Hasan mulai menarik penisnya secara perlahan dari lubang pantat Fanny sampai tinggal kepala penis Pak Hasan yang masih terbenam dalam lubang pantat Fanny. “AAAAGGGHHHHHHH... ..” jerit Fanny dengan keras ketika secara tiba-tiba dan kasar Pak Hasan memasukkan kembali seluruh penisnya ke dalam lubang pantat Fanny. Sementara Pak Jamal juga mulai menggerakkan pantatnya sehingga penisnya kembali menyodok vagina Fanny. Kemudian Pak Hasan dan Pak Jamal mulai secara kompak memompa penisnya masing keluar masuk vagina dan lubang pantat Fanny. Pompaan mereka semakin lama semakin cepat, membuat tubuh Fanny tergoncang-goncang. Kepala Fanny bergoyang tidak beraturan karena nikmat yang dirasakannya. Kedua payudara Fanny dijilati oleh Pak Jamal dari bawah. Kedua tangan Pak Jamal memainkan puting Fanny seperti orang mencari sinyal radio. Selama hampir limabelas menit Kedua laki-laki gemuk itu menghimpit tubuh Fanny, tubuh putih mulus itu seperti daging dalam jepitan roti hamburger. Semua mata menayksikan tanpa berkedip bagaimana tubuh putih mulus Fanny terhentak-hentak di tengah jepitan Pak Jamal dan Pak Hasan. Perlahan Pak Hasan menyusupkan tangannya di ketiak Fanny, lalu dengan sebuah sentakan, dia dan Fanny bangun dan duduk dengan punggung Fanny melekat di dadanya sementara tangan kekarnya mengunci kedua lengan Fanny, posisi ini membuat jepitan vagina Fanny pada penis Pak Jamal terlepas. Kemudian dengan gerakan pelan, Pak Hasan merebahkan dirinya terlentang, masih dengan punggung Fanny menempel di dadanya, sehingga keduanya saling bertindihan dengan posisi tubuh Fanny terlentang di atas tubuh Pak Hasan, perut gendut Pak Hasan menekan punggung Fanny sehingga dada Fanny melengkung ke depan, membuat payudaranya mencuat menggemaskan sementara penis Pak Hasan mesih membenam di anus Fanny. Dengan posisi demikian, Pak Jamal jadi lebih leluasa, dia kemudian memegangi pergelangan kaki Fanny, lalu kedua belah kaki Fanny diangkatnya tinggi tinggi ke udara dan dibentangkannya ke samping, sehingga membentuk huruf V. Posisi itu membuat liang vaginanya membuka. Tanpa menunggu lebih lama, Pak Jamal kembali melesakkan penisnya ke dalam liang vagian Fanny. Dan kembali tubuh mulus Fanny digenjot oleh kedua laki-laki gendut itu dari dua arah. Genjotan demi genjotan penis kedua laki-laki itu pada anus dan vagiinanya benar-benar memaksa Fanny untuk kembali mengalami orgasme, tubuhnya mengejang-ngejang kuat, kedua tangan dan kakinya kembali meronta-ronta liar. Tapi kedua laki-laki itu tidak ingin Fanny terlalu cepat mencapai klimaksnya, sedapat mungkin mereka menahan agar Fanny tidak buru-buru mencapai orgasme. Selama hampir satu jam mereka menyetubuhi Fanny, tubuh mulus itu benar-benar sudah kepayahan, berulangkali orgasmenya tertahan membuat wajah Fanny memerah seolah akan meledak. Fanny berusaha sekuat tenaga untuk bisa kembali orgasme tapi selalu bisa dicegah. ‘Ohhgghhh... amm.. puunn. Paakk... oohh.. amm.. puuunnn.. sudaaah... oohh.. nggak tahaaaannn... ahhh.. mau sampai... ahh.. mau sampai...” Fanny merintih-rintih putus asa di tengah usahanya untuk bisa orgasme. Pak Jamal dan Pak Hasan tertawa-tawa mendengar rintihan Fanny yang tidak ubahnya seperti pelacur saja. “Mau konak ya Neng.. tunggu bentar lagi.. Bapak belum puas..” kata Pak Jamal di telinga Fanny, keduanya terus-menerus menggenjot Fanny yang sudah lemas. Tubuh fanny sekarang tidak ubahnya sebuah boneka kain yang terhentak-hentak dalam himpitan dua laki-laki tua yang sedang menyetubuhinya. Mata Fanny sudah sayu dan merem melek menerima kenikmatan yang rasanya tidak ada akhirnya. Badannya bergoyang erotis mengikuti sodokan penis kedua laki-laki tua itu pada vagina dan pantatnya. Terlihat sekali Fanny sedang menikmati permainan tersebut, Fanny menjadi tidak peduli dengan sekelilingnya. Fanny sudah tidak mempedulikan lagi suara-suara desahan tertahan dari penonton yang ikut terangsang menyaksikan adegan persetubuhannya dengan dua laki-laki sekaligus. Fanny berada di dunianya sendiri, tubuhnya sudah sepenuhnya dikuasai dorongan seksual. Fanny menggelinjang liar dan erotis, tubuhnya dibiarkan mengikuti apa maunya kedua laki-laki tua itu. Banyak dari penonton yang beronani sampai menyemburkan spermanya di tempat karena tidak tahan menyaksikan tubuh yang begitu putih, mulus dan sexy itu dihimpit dua tubuh laki-laki tua berbadan gemuk dan hitam. Setelah lebih dari satu jam dikerjai sedemikian rupa, akhirnya ketiganya tidak tahan lagi. Fanny lah yang pertama kali mencapai puncak orgasmenya. Tubuhnya mengejang luar biasa keras sambil kakinya menyentak-nyentak ke samping seperti kuda liar, tubuhnya melengkung seperti mendorong tubuh Pak Jamal yang berada di atasnya. “Aaaahhhhhkkhhhh... Oohhhhhhhh...!!!” Fanny mengerang keras sambil tubuhnya menegang keras bagaikan patung batu, tangannya mengepal kuat-kuat, kepalanya sampai terdongak menengadah. Dari vaginanya kembali mengucur deras cairan kewanitaannya. Pada saat yang bersamaan Pak jamal dan pak Hasan juga mengejang. Keduanya menekan keras penis mereka kuat-kuat ke dalam vagina dan lubang pantat Fanny. “Ohhhhkk... Ahhh...” Diiringi desa penuh kenikmatan, Pak Jamal dan Pak Hasan menyemburkan sperma mereka ke dalam vagina dan anus Fanny, ketiganya mencapai puncak orgasme mereka secara hampir bersamaan. Tubuh fanny tergolek lemas di atas ranjang, setelah disetubuhi oleh tiga orang, tenaganya benar-benar habis. Fanny merasa seluruh tulang di tubuhnya seperti rontok dari sendinya, badannya terasa sakit skali, seolah baru saja dilindas oleh rombongan gajah. Pada saat itu, Ki Wongso, yang sekarang memakai kembali celana kolornya, mendekati Fanny yang terkapar leas sambil membawa sebuah piala perak berisi cairan hijau kental. Ki Wongso menegakkan tubuh Fanny dan menyodorkan piala itu ke bibir Fanny. Fanny dipaksa menelan cairan hijau aneh tersebut. Tenggorokan Fanny seperti terbakar oleh rasa pahit yang begitu pekat. Dia ingin memuntahkan kembali cairan itu, tapi Ki Wongso memaksanya menelan cairan itu. Dan entah apa isi piala itu, tapi pengaruhnya sangat besar pada diri Fanny. Tubuh Fanny seolah dialiri sebuah tenaga tambahan yang begitu menggelora, seperti ada yang baru saja menyalakan mesin pendorong dalam tubuhnya, tubuh Fanny langsung segar dan bersemangat. Matanya yang tadi begitu sayu sekarang kembali bersinar. Fanny juga merasakan detak jantungnya bertambah cepat dan tubuhnya kembali menghangat seperti ada api yang menyala di dalam tubuhnya. Perlahan nafasnya mulai tersengal-sengal dan wajahnya mulai memerah. Fanny merasakan vaginanya kembali berdenyut-denyut, desakan seksualnya secara mendadak meledak lagi, dibangkitkan oleh cairan yang baru saja diminumnya. Seketika Fanny mulai mendesah-desah dan berkeringat, gerakannya mendadak menjadi gelisah, Fanny perlahan mulai meremasi payudaranya sendiri dengan gerakan lembut. “Ohh... ohh... ahh...” Fanny mengerang-erang lirih sambil terus meremasi payudaranya sendiri, kemudian dia juga mengelus-elus vaginanya, jari-jari tangannya dimasukan ke liang vaginanya sendiri dan mengaduk-aduk liang vagina itu sambil seskali mendesah dan mengerang. Melihat hal itu, Amar yang sudah terangsang berat naik ke atas ranjang. “Ohh.. daripada Neng main sendirian, Neng main sama kita-kita yuk..” kata Amar sambil melepaskan celana kolornya. Seketika penisnya yang sudah sejak tadi tegang langsung menjulur keluar. Fanny yang terangsang berat tanpa ragu-ragu memegang penis itu dan mengocoknya dengan lembut. Sesekali penis Amar yang juga besar itu dijilatinya seperti sedang menjilati es krim, kemudian Fanny membuka mulutnya dan mengulum penis Amar yang berurat itu. Fanny menggoyangkan kepalanya maju mundur membuat penis Amar terkocok di dalam mulutnya. “Ohh.. yeahh... ahhh.. teruss Neng.. ahhh... oohh..” Amar mengerang merasakan kenikmatan kuluman dan kenyotan bibir Fanny pada penisnya. Serentak, Pak Sarta Sekretaris Desa dan Pak Arman si mantri hutan ikut naik ke atas ranjang, masing-masing membuka celananya dan menyorongkan penisnya ke wajah Fanny tiga batang penis besar dan legam menjulur di wajah Fanny seperti senapan yang siap ditembakkan. Fanny yang sangat trangsang akibat pengaruh cairan hijau yang diminumnya segera meraih penis-penis itu. Penis Amar ada di dalam mulutnya, penis Pak Sarta dalam genggaman dan kocokan tangan kanan sedangkan penis Pak Arman dikocoknya dengan tangan kiri. Fanny sekarang benar-benar sibuk melayani ketiga batang penis dengan mulut dan tangannya, secara bergantian dikulumnya penis-penis itu dengan mulut mungilnya sambil tangannya tetap mengocok ketiga penis itu bersamaan. Pak Sarta, Amar dan Pak Arman melenguh-lenguh penuh kenikmatan mendapatkan pelayanan tangan dan bibir Fanny. Kemudian Pak Arman yang penisnya paling besar diantara mereka bertiga mundur, dia menempatkan diri di belakang Fanny. Dia menyuruh Fanny untuk menunggingkan pantatnya sementara tangan dan mulutnya tetap sibuk mengocok dan mengulum penis Amar dan Pak Sarta. Posisi Fanny sekarang seperti merangkak dengan bertumpu pada lutut dan sebelah tangannya sedangkan tangan satunya lagi sibuk mengocok penis Pak Sarta dan bibirnya sibuk mengulum dan mengenyot penis Amar. Sambil mengocok dan mengngulum penis Pak Sarta dan Amar, Fanny merasa ada sesuatu yang basah di bawah sana, ternyata Pak arman sedang menjilati bongkahan pantatnya yang putih dan montok. Tubuh Fanny menggelinjang, apalagi waktu jari-jari tanagn Pak Arman bermain dengan vaginanya, setiap sentuhan jari pak Arman pada vagina Fanny membuatnya semakin terangsang. Tiba-tiba Fanny menghentikan kuluman dan kocokannya pada penis Amar dan Pak Sarta sambil mengerang tertahan, dia lepaskan sejenak penis Pak Sarta dari mulutnya. Wajahnya meringis karena di belakang sana Pak Arman mendorongkan penisnya yang besar dan legam ke vaginanya. “Aaahhh… oooohhh… oohh…!!” rintihnya dengan menengok ke belakang melihat penis itu pelan-pelan memasuki vaginanya. Fanny merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, benda itu bahkan menyentuh dinding rahimnya. Setalah diam beberapa saat, Pak Arman mulai menggenjot penisnya dengan cepat keluar masuk vagina Fanny. Fanny yang belum pernah vaginanya digenjot oleh penis sebesar penis Pak Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. “Aaahhhh... Oohhhhhhh.... Ahhhh.....” Fanny mendesah-desah penuh nikmat sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas kain seprei. Pak Arman semakin cepat memompa vagina Fanny dengan penisnya. Sementra Pak Sarta dan Amar kmbali menyodorkan penisnya untuk dikocok dan dikenyot lagi oleh fanny. Dari belakang Pak Arman menggenjot vaginanya, sedangkan dari depan, sepasang penis besar mendesak-desak di dalam mulutnya secara bergantian. Setelah sepuluh menit pak Arman menggenjot vagina Fanny, dia memberikan isyarat untuk berganti posisi. Sekarang gliran Pak Sarta yang menyodok-nyodok vagina Fanny dengan penisnya. Pak Arman memompa vagina Fanny dengan kasar dan dalam tempo yang cepat. “Aaaaghh... egghhhh......” teriak Fanny mendapat perlakuan kasar dari Pak Sarta, tapi Amar dan Pak arman segera menyumbat mulut Fanny dengan penis mereka, membuat desahan dan rintihan Fanny hanya berupa gumaman-gumaman tidak jelas. Mendengar Fanny merintih-rintih seperti itu justru membuat Pak Sarta malah semakin bersemangat dan semakin keras menggenjot vagina Fanny dengan penisnya dari belakang. Tangan Pak sarta memegang pinggang Fanny dan mulai menarik maju mundur badan Fanny, sehingga pompaan penisnya dalam vagina Fanny semakin keras dan cepat. Badan Fanny maju mundur mengikuti pompaan keras penis Pak Arman. Setiap kali Pak Arman memasukkan penisnya sampai mentok ke vagina Fanny, terdengar teriakan Fanny yang teredam oleh sumpalan penis Pak Arman dan Amar. “MHGHH... ..MMHHHH... .OGHHH... ” suara erangan Fanny teredam oleh penis yang memenuhi mulutnya. Semakin cepat Pak Sarta memompa penisnya semakin cepat dan keras erangan Fanny. Sepuluh menit kemudian mereka kembali bertukar posisi, kali ini Amar yang kebagian jatah menggenjot vagina Fanny. Amar menggenjot tubuh Fanny dengan tidak kalah brutalnya membuat tubuh mulus itu terhentak-hentak ke depan. Dan begitu seterusnya setiap sepuluh menit sekali meeka berganti posisi. Karena terus menerus berganti-ganti posisi, maka mereka bertiga bisa bertahan sangat lama, entah berapa kali Fanny mengelepar-gelepar merasakan orgasmenya yang meledak berulang-ulang, tapi ketiga laki-laki tua itu seolah tidak akan berhenti menggenjot tubuhnya dari depan maupun belakang. Fanny merasa seperti sedang diperkosa oleh satu kompi tentara yang tidak pernah berhenti menggilir tubuhnya. Tiga jam lebih Pak Arman, Pak sarta dan Amar menyetubuhi Fanny, membuat tubuh Fanny tidak kuasa lagi bergerak, dia hanya mengikuti irama setiap genjotan pada tubuhnya tanpa daya, sementara orgasmenya entah sudah berapa kali terjadi. Perkosaan itu baru berakhir setelah keiga pria itu merasa benar-benar puas, mereka lalu menyemprotkan spermanya di dalam rahim Fanny secara bergantian. Tidak terasa hampir enam jam lamanya Fanny disetubuhi secara non stop oleh tujuh orang sekaligus. Tubuhnya serasa sudah mati, hanya rintihan lirih yang keluar dari bibir Fanny sementara dia hanya bisa terbaring di ranjang dengan lemas. Fanny pun tidak mampu berbuat apa-apa ketika Ki Wongso mengumumkan, bagi siapapun yang tidak bisa menahan nafsunya dibolehkan untuk menyemprotkan spermanya ke tubuh Fanny ang terbaring telanjang. Maka berbondong-bondong, ratusan warga desa yag memang sejak tadi tidak kuat menahan ejakulasinya secara bergantian mengocok-ngocok penis mereka di atas tubuh Fanny, lalu mereka menyemprotkan spermanya ke sekujur tubuh Fanny, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah selesai acara persembahan itu, tubuh Fany sudah benar-benar tidak berdaya, sekujur tubuhnya yang putih mulus dan telanjang itu penuh berlumuran sperma, seolah Fanny baru saja mandi sperma. Upacara baru benar-benar selesai mejelang matahari terbit. Fanny hanya bisa menangis setelah kesadaranya kebali pulih. Penderitaan yang dialaminya semalam telah menghancurkan dirinya luar dalam, dia merasa benar-benar hina, lebih hina dari pelacur yang pling rendah, apalagi ketika teringat berapa banyak sperma yang disemprotkan ke dalam rahimnya, Fanny merinding dengan kemungkinan dirinya akan hamil mengingat malam itu adalah masa suburnya. Kalau dirinya hamil, dia tidak pernah tahu siapa yang menghamilinya diantara ketujuh pemuka desa itu. THE END