BoXeR

HalloW anak2 Boxer.Billy Slaku Bisek Membuat blog untuk teman2

Monday, September 18, 2006

MeMpERaWaNi ABG TeTAnGGA

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno
sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini
kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah
sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin
sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat
menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba
menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang.
Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang
terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri
nonton CD porno seharian", gumamku.

Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil
segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan
agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak
seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan
sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat
kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa
ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang.
Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk
menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik
kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali
harus nancap. "Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha
menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat
kabar pagi yang belum tersentuh.

Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku
mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga
mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku
ramah.

ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di
kursi kosong sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu",
tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya
yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".

Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak
ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, kemudian
membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar
tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati
dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus
untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya
membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa
asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang
itu.

"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan
nakalku.
"Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering
main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan
tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga
telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa
sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di
telingaku, "inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti
berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku
sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu
terlampiaskan".

Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat
anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup
dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."

Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir
ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi
kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di
sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi
potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi
tak berusaha memalingkan pandangannya.

Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis
itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang
melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas
dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas
dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."

Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya.
Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia
mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan
badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai.
Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang
masih dibalut celana warna hitam.

"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan
kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya
kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat
pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil,
berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di
atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama
lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan
lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan
dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang
keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku,
seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.

Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding
vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan
milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak
dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas
pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32.
Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu
beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan
mencium putingnya yang kecil.

"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku
menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia
rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"

Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya.
Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang
pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran.
Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus
sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di
vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang
telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat
kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian
kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu.
Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak
ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku
masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak
menahan nyeri.

"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya
sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol
perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan
dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa
menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian
aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku
maju. Sampai akhirnya.. "Ouuu..", dia menjerit lagi. Aku
merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia.
Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.

Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk
menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak
itu.
"Ahh.. ohh.. asshh...", dia mengerang dan melenguh ketika aku
mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan
erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu
menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya
adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya
menggigit lengan atau pundakku.

"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouuu enak sekali Om..."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama.
Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu.
Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih
bisa dilakukan.

Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum
spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa
nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku
ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil
memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai
klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak
mungkin hamil dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas
bisa meredakan adik kecilku.

"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar
berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny
kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit
kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan,
lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG
tetangga.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home